Dinilai Visioner dan Strategis, Akademisi Apresiasi Pidato Prabowo di WEF Davos 2026
Kredit Foto: Dok. BPMI
Sejumlah akademisi dari berbagai disiplin ilmu memberikan apresiasi terhadap pidato Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam forum World Economic Forum (WEF) Davos 2026 di Swiss. Pidato tersebut dinilai memuat pesan diplomatik global sekaligus arah pembangunan nasional yang strategis dan berkelanjutan.
Akademisi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Direktur Geopolitik Great Institute, Dr. Teguh Santosa menilai pidato Presiden Prabowo sebagai proposal terbuka bagi kerja sama dan kemitraan internasional yang adil.
Baca Juga: Di Istana Élysée, Presiden Prabowo Penuhi Undangan Jamuan Santap Malam Pribadi Presiden Macron
Menurut Teguh, Presiden Prabowo secara terbuka memaparkan berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi Indonesia sebagai warisan pemerintahan sebelumnya sekaligus menjelaskan capaian konkret pemerintahannya dalam merespons tantangan tersebut.
“Pidato ini mempertegas perbedaan antara praktik greedynomics yang menimbulkan kerusakan di berbagai sektor dengan Prabowonomics yang relatif berhasil mengurangi dampak tersebut,” ujar Teguh, dilansir Sabtu (24/1).
Ia menilai pidato Presiden Prabowo di Davos dapat dijadikan rujukan kebijakan lintas sektor agar seluruh pemangku kebijakan bergerak dengan visi dan arah pembangunan yang selaras.
Apresiasi juga disampaikan Guru Besar Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Betty Tresnawaty. Ia menyoroti strategi komunikasi Presiden Prabowo yang dinilai persuasif, terstruktur dan efektif untuk audiens global.
Menurut Prof. Betty, Presiden Prabowo berhasil mengombinasikan data konkret seperti penyediaan 59,8 juta porsi makanan bergizi dan digitalisasi 288.000 sekolah, dengan narasi emosional mengenai kesejahteraan rakyat serta stabilitas nasional.
“Framing bahwa perdamaian merupakan prasyarat kemakmuran menjadi positioning strategis dalam membangun kredibilitas Indonesia di panggung internasional,” jelasnya.
Dari perspektif ekonomi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesian International Islamic University (UIII), Prof. Dian Masyita menilai penekanan Presiden Prabowo pada perdamaian, stabilitas dan dialog sebagai fondasi pembangunan di tengah fragmentasi geopolitik global.
Ia menilai konsep Prabowonomics mencerminkan strategi pembangunan berbasis kedaulatan ekonomi, ketahanan nasional dan pertumbuhan berkeadilan melalui penguatan industri strategis, program sosial pro-rakyat serta pembentukan sovereign wealth fund Danantara.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila, Dr. (Cand.) Donie Kadewandana menilai pidato Presiden Prabowo berupaya menjembatani idealisme dengan realitas kebijakan publik.
Menurutnya, pidato tersebut menempatkan pembangunan pada fondasi stabilitas politik, ekonomi, dan hukum,serta menekankan pentingnya investasi sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi, kesehatan dan pendidikan.
“Tantangan terbesarnya adalah konsistensi pelaksanaan, namun secara substantif pidato ini membawa harapan bahwa pembangunan dipahami sebagai proses berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga: Perkuat Kerja Sama Strategis, Presiden Prabowo Sambangi Presiden Macron di Paris
Secara umum, para akademisi menilai pidato Presiden Prabowo di WEF Davos 2026 sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia ingin tampil sebagai aktor global yang menawarkan stabilitas, kerja sama yang adil serta visi pembangunan jangka panjang yang inklusif.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar