Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kemenperin Beberkan Industri AMDK Tercekik Bea Masuk Anti-Dumping & Biaya Logistik

        Kemenperin Beberkan Industri AMDK Tercekik Bea Masuk Anti-Dumping & Biaya Logistik Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) nasional tengah menghadapi tekanan hebat. Meski mencatatkan kinerja utilisasi yang tinggi, sektor ini terjepit oleh lonjakan biaya produksi dan hambatan logistik yang masif.

        PLT Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, membeberkan bahwa ketergantungan pada bahan baku impor yang terkena hambatan dagang menjadi biang kerok kenaikan beban industri.

        "Bahan baku kemasan AMDK ini belum sepenuhnya dapat dipasok dari dalam negeri dan ini banyak yang diimpor. Dan importasi bahan kemasan ini banyak yang kena BMAD, bea masuk anti-dumping seperti produk BOPET, BOPP," tegas Putu dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja Industri Air Minum dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (4/2/2026).

        Baca Juga: Keberlanjutan Investasi Manufaktur Diragukan, Kemenperin Bilang Begini

        Putu merinci, pengenaan BMAD pada produk Biaxially Oriented Polypropylene Terephthalate (BOPET) dan Biaxially Oriented Polypropylene (BOPP) telah mengerek biaya operasional. Selain itu, harga kemasan PET daur ulang masih jauh lebih tinggi dibandingkan plastik murni (virgin plastic) karena produksinya belum mencapai skala ekonomi.

        Tak hanya di hulu, hambatan serius juga terjadi di sisi hilir. Kemenperin mencatat biaya logistik per unit masih sangat mahal akibat terbatasnya pilihan moda transportasi distribusi.

        Kebijakan pembatasan truk pada hari besar keagamaan serta aturan Over Dimension Over Load (ODOL) disebut menjadi penghambat distribusi ke wilayah terpencil.

        "Upaya-upaya untuk memenuhi ODOL ini belum sepenuhnya dapat mendukung pemenuhan ketentuan ODOL karena banyak AMDK yang didistribusikan dengan transportasi yang menggunakan kendaraan truk yang over dimension maupun overload," jelas Putu.

        Baca Juga: Apindo dan Kadin Optimistis Ekonomi dan Industri AMDK Tumbuh di 2026

        Tekanan ini sangat disayangkan mengingat industri AMDK memiliki fundamental yang kuat. Saat ini, terdapat 707 pabrik dengan kapasitas terpasang 47 miliar liter per tahun dan utilisasi mencapai 71,62%.

        Nilai investasi di sektor ini menembus Rp 27,8 triliun dengan penguasaan pasar domestik mencapai 99,7%. Selain itu, industri ini menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja di sepanjang rantai distribusi.

        Sebagai langkah strategis, pemerintah kini mendorong efisiensi melalui implementasi Industri 4.0 dan pemberian insentif fiskal. "Kebijakan pemerintah adalah peningkatan produktivitas melalui implementasi industri 4.0 dan insentif industri," tutup Putu.

        **Apakah Anda ingin saya membuatkan analisis ringkas mengenai dampak Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) ini terhadap harga jual eceran AMDK di tingkat konsumen?**

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: