Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026. Langkah tersebut dinilai sebagai strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan keputusan menahan suku bunga diperkirakan diambil sebagai respons terhadap berbagai sentimen negatif eksternal yang berpotensi menekan pasar domestik.
“BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga BI sebesar 4,75% pada RDG bulan Februari 2026 sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah risiko pasar keuangan yang meningkat,” kata Josua kepada Warta Ekonomi, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, tekanan pasar dipicu oleh peringatan dari MSCI terkait transparansi pasar modal Indonesia yang berdampak pada penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Selain itu, revisi prospek utang negara Indonesia oleh Moody's dari stabil menjadi negatif turut memperburuk sentimen investor.
Josua menilai kombinasi peringatan MSCI dan outlook negatif Moody’s berpotensi meningkatkan premi risiko serta volatilitas aliran modal. Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi terbatas dalam waktu dekat.
“Dalam konteks ini, kami memperkirakan BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor daripada pelonggaran moneter dalam jangka pendek, sehingga ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik,” terangnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri