Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat dalam beberapa hari terakhir, setelah sempat mengalami tekanan akibat gejolak pasar menyusul laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.34 WIB rupiah menguat 29 poin atau 0,17% ke level Rp16.776 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan penguatan rupiah mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ia menyebut tren penguatan sudah terlihat sejak tiga hari terakhir.
Baca Juga: Cadangan Devisa Susut Tergerus Depresiasi Rupiah, Kebijakan BI Jadi Sorotan
“Kalau kita lihat dalam tiga hari terakhir, rupiah sudah mulai mengalami penguatan. Hari ini pun rupiah sudah berada di level 16.700-an,” kata Destry di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Destry menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah sebelumnya dipicu oleh gejolak pasar setelah rilis laporan MSCI, ditambah dinamika ekonomi di sejumlah negara tetangga. Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar, khususnya investor global.
Namun demikian, ia menilai komunikasi kebijakan yang kuat dari pemerintah dan regulator berhasil mengembalikan kepercayaan pasar.
“Tapi kemudian, dengan adanya bold communication yang baik dari pemerintah dan regulator, bahwa ini adalah bagian dari upaya kita untuk memberikan kepercayaan penuh kepada market,” ujarnya.
Baca Juga: Purbaya Klaim Bisa Bikin Rupiah Menguat ke Rp15.000 Jika di Posisi BI
Sementara itu, Bank Indonesia secara konsisten menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Destry menegaskan, BI akan tetap berada di pasar melalui kebijakan smart intervention.
Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot hingga Non-Deliverable Forward (NDF), termasuk NDF di luar negeri. BI juga melakukan langkah masuk ke pasar (step in) saat terjadi arus keluar (outflow) yang cukup besar dari Surat Berharga Negara (SBN) dalam beberapa hari terakhir, guna memastikan pergerakan rupiah tetap terkendali.
“Ini terjaga dalam arti tidak terlalu menguat tinggi dan juga tidak terlalu melemah, karena saat ini persaingan untuk merebut likuiditas global memang sangat ketat antara satu negara dengan negara lain,” pungkas Destry.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri