Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tarif Nol Persen Kedelai dan Gandum AS, Airlangga Pastikan Tak Picu Inflasi

        Tarif Nol Persen Kedelai dan Gandum AS, Airlangga Pastikan Tak Picu Inflasi Kredit Foto: YouTube Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kebijakan tarif nol persen untuk bahan baku pangan asal Amerika Serikat menjadi salah satu poin krusial dalam kesepakatan dagang terbaru Indonesia–AS. Pemerintah memastikan langkah ini tidak akan memicu kenaikan harga pangan di dalam negeri.

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa penghapusan tarif justru dirancang untuk menjaga stabilitas harga pangan nasional. Dalam konferensi pers di Amerika Serikat, Airlangga mengatakan,

        “Ya, saya kira dampak dari perjanjian ini adalah, pertama, kita memberlakukan tarif impor nol persen untuk bahan baku pangan esensial seperti tahu dan tempe, serta mi yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia,” kata Airlangga, Kamis (21/2/2026).

        Kesepakatan itu diteken Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Donald Trump dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART). Agenda tersebut berlangsung di Washington D.C. dalam rangkaian negosiasi tarif dan perluasan akses pasar kedua negara.

        Bahan baku yang mendapatkan fasilitas nol persen antara lain kedelai dan gandum, yang merupakan komponen utama industri makanan nasional. Airlangga menegaskan, kebijakan ini akan menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung kelancaran produksi industri pangan nasional.

        Secara struktur pembentukan harga, tarif impor termasuk komponen biaya yang dapat memengaruhi harga akhir di tingkat konsumen. Dengan penghapusan tarif, tekanan biaya dari sisi kebijakan perdagangan otomatis berkurang dan potensi inflasi ditekan.

        "Dengan demikian, tidak akan terjadi inflasi akibat produk pangan tersebut yang berasal dari sektor pertanian Amerika Serikat.” Ujarnya.

        Secara teori ekonomi, kenaikan harga akibat peningkatan biaya produksi dikenal sebagai cost-push inflation. Pemerintah menyatakan kebijakan ini justru dimaksudkan untuk meredam risiko tersebut dan memastikan stabilitas harga pangan.

        Tahu, tempe, dan mi memiliki bobot signifikan dalam penghitungan Indeks Harga Konsumen. Perubahan harga pada komoditas ini dapat berdampak langsung terhadap inflasi pangan nasional.

        Airlangga menekankan bahwa kebijakan tarif nol persen menjaga pasokan bahan baku tetap lancar. Dengan pasokan stabil, pelaku industri tidak perlu membebankan kenaikan biaya tambahan kepada konsumen.

        Kesepakatan ini juga memuat ketentuan perdagangan timbal balik antara kedua negara. Indonesia membuka akses bagi sejumlah komoditas AS, sementara produk Indonesia memperoleh fasilitas serupa di pasar Amerika.

        Dalam dokumen ART, kedua negara tetap merujuk pada aturan World Trade Organization (WTO) untuk memastikan perdagangan berjalan sesuai koridor hukum internasional. Artinya, mekanisme pengamanan tetap tersedia jika terjadi lonjakan yang tidak wajar.

        Selain tarif, faktor lain tetap memengaruhi harga pangan di dalam negeri. Nilai tukar rupiah, harga komoditas global, serta biaya distribusi domestik menjadi variabel yang terus dipantau pemerintah.

        Kunjungan Prabowo ke Amerika Serikat tidak hanya membahas bahan baku pangan. Negosiasi juga mencakup perluasan akses ekspor Indonesia dan penyesuaian tarif strategis yang berdampak pada industri nasional.

        Pemerintah menyatakan seluruh kesepakatan akan melalui proses hukum dan konsultasi dengan DPR sebelum berlaku efektif. ART dijadwalkan mulai berjalan 90 hari setelah ratifikasi di masing-masing negara rampung.

        Baca Juga: Prabowo dan Trump Teken Kesepakatan Tarif, Transaksi Elektronik Bebas Bea Masuk

        Dengan skema tersebut, penghapusan tarif bahan baku pangan diposisikan sebagai instrumen stabilisasi, bukan pemicu tekanan harga. Pemerintah menargetkan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

        Langkah ini sekaligus menunjukkan pendekatan perdagangan yang menyeimbangkan keterbukaan pasar dan stabilitas domestik. Stabilitas harga pangan dipandang sebagai fondasi penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: