- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Penolakan Warga Bayangi Proyek Masela, Biaya Kompensasi Berpotensi Masuk Cost Recovery
Kredit Foto: INPEX Masela Ltd
Proyek pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela menghadapi risiko non-teknis, menjelang dimulainya konstruksi fasilitas LNG darat (onshore LNG/OLNG).
Hal ini menyusul munculnya penolakan masyarakat di wilayah Saumlaki, Maluku, terkait skema kompensasi lahan terdampak proyek.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan, aksi protes warga terjadi di tengah proses penyelesaian pengadaan lahan untuk pembangunan OLNG.
“Tadi saja kami didemo, bakar-bakar ban di depan kantor SKK,” ungkap Djoko dalam rapat debottlenecking investasi LNG Blok Masela bersama Kementerian Keuangan di Jakarta, selasa (24/2/2026).
Nilai kompensasi tanam tumbuh yang saat ini mengacu pada putusan pengadilan sebesar Rp15 ribu per meter, dinilai belum memadai untuk mengakomodasi ekspektasi masyarakat di lapangan.
Pemerintah daerah pun diminta segera membentuk tim terpadu, guna merekomendasikan besaran ganti rugi sebagai prasyarat percepatan pembebasan lahan.
SKK Migas mencatat, operator proyek Inpex telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp80 miliar, melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk kebutuhan kompensasi awal.
Namun, apabila nilai kompensasi yang direkomendasikan melebihi alokasi tersebut, terdapat kemungkinan tambahan pembiayaan akan dimasukkan ke dalam mekanisme cost recovery.
“Asal kita sepakat misalnya kebutuhannya nanti Rp100 miliar, kita baru ada Rp80 miliar, kita tambah Rp20 miliar, cost recovery juga,” jelas Djoko.
Skema tersebut berpotensi menambah komponen biaya pengembangan proyek, yang pada akhirnya dapat dibebankan dalam struktur penggantian biaya operasi hulu migas.
Baca Juga: LNG Masela Diminati PGN Hingga Pupuk, Harga Masih Nego
SKK Migas menargetkan proses penyelesaian kompensasi lahan dapat dirampungkan paling lambat satu minggu sebelum Idulfitri 2026, guna menjaga kelancaran tahapan awal konstruksi OLNG yang direncanakan dimulai pasca-Lebaran.
Proyek Masela ditaksir memakan belanja modal (capital expenditure) lebih dari US$20 miliar, dan dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, kondensat 35.000 barel per hari, serta alokasi gas domestik sebesar 150 MMscfd. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus