Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kuba Kecam Ancaman Militer dan Blokade Amerika Serikat

Kuba Kecam Ancaman Militer dan Blokade Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kuba mengecam keras meningkatnya pernyataan dan ancaman aksi militer dari Amerika Serikat. Havana menyebut ancaman itu sebagai tindakan berbahaya dan pelanggaran hukum internasional.

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez Parrilla menuding negara tetangganya itu memberi sinyal kemungkinan intervensi militer dengan dalih membebaskan wilayah dari Havana.

Baca Juga: Amerika Serikat Sebut Kuba 'Negara Gagal', Siap Ambil Tindakan di Masa Depan

“Ancaman serangan militer dan agresi itu sendiri adalah kejahatan internasional,” ujar Rodriguez.

Amerika Serikat menurutnya bersifat hipokrit dan sinis karena selama puluhan tahun menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negranya, yang menurutnya menjadi akar persoalan ekonomi dan sosial di Kuba.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio menyatakan bahwa pihaknyat idak menyukai status quo di Kuba. Washington menurutnya akan mengambil langkah untuk mengatasinya, meski belum dalam waktu dekat.

“Kami akan menanganinya, tetapi bukan hari ini,” kata Rubio. 

Pernyataan Rubio disertai unggahan media sosial yang memperlihatkan dirinya bersama Kepala Misi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Havana, Mike Hammer, serta Jenderal Frank Donovan dari Komando Selatan Amerika Serikat.

Amerika Serikat tahun ini juga meningkatkan tekanan terhadap Kuba. Hal itu dilakukan dengan menghentikan pasokan minyak dan mengancam menjatuhkan sanksi kepada negara mana pun yang memasok minyak ke Havana. Langkah tersebut memperparah krisis energi yang telah memicu pemadaman listrik berkepanjangan di Kuba.

Baca Juga: Negara Asia Wajib Waspada, Chevron Peringatkan Krisis Minyak Akibat Penutupan Selat Hormuz

Amerika Serikat sempat mengizinkan satu kapal tanker minyak mengirim bahan bakar ke Kuba. Namun, pasokan tersebut disebut hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan energi negara itu selama beberapa bulan. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: