Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kemenkeu Waspadai Risiko Global Usai Serangan dan Penutupan Hormuz

        Kemenkeu Waspadai Risiko Global Usai Serangan dan Penutupan Hormuz Kredit Foto: Cita Auliana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan sejumlah risiko global pasca serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan minyak dunia.

        Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, mengatakan risiko utama yang perlu diwaspadai adalah potensi gangguan rantai pasok global, terutama pasokan energi dan minyak bumi, serta peningkatan volatilitas pasar keuangan global.

        Menurut Febrio, ketegangan perdagangan global juga berpotensi menekan kinerja ekspor nasional melalui pelemahan permintaan eksternal dan kenaikan biaya logistik.

        “Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional,” ujar Febrio dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (2/3/2026).

        Kendati demikian, ia menegaskan fundamental eksternal Indonesia masih terjaga. Hal tersebut tercermin dari neraca perdagangan yang mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut.

        “APBN akan terus dikelola secara hati-hati, termasuk dengan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3% PDB,” tambahnya.

        Pemerintah, lanjut dia, menyiapkan langkah mitigasi risiko melalui percepatan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor bernilai tambah, serta diversifikasi mitra dagang melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional.

        Baca Juga: Serangan AS ke Iran Ganggu Pasokan Minyak, Airlangga: Harga BBM Otomatis Naik

        Baca Juga: Rupiah Ambles ke Rp16.868, Terseret Perang AS-Iran

        Baca Juga: BI Jaga Rupiah di Tengah Konflik AS-Iran dan Gejolak Pasar Global

        Di sisi lain, kinerja manufaktur Indonesia masih menunjukkan tren ekspansif pada Februari 2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,8 dan menjadi capaian tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Penguatan tersebut didorong lonjakan permintaan baru yang diimbangi pertumbuhan produksi secara signifikan.

        “Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis. Berbagai upaya untuk menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian domestik akan terus didorong, terutama melalui stimulus fiskal, iklim investasi, dan penciptaan lapangan kerja,” kata Febrio.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: