Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        DEN: 600 Juta Ton Batu Bara 'Terdampar' Bisa Jadi Bahan Baku DME

        DEN: 600 Juta Ton Batu Bara 'Terdampar' Bisa Jadi Bahan Baku DME Kredit Foto: Antara/Syifa Yulinnas
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia mendorong pengembangan dimethyl ether (DME) berbasis batu bara sebagai alternatif pengganti LPG, guna mengurangi ketergantungan impor energi.

        Pemerintah menilai pemanfaatan batu bara kalori rendah, dapat menjadi solusi memperkuat ketahanan energi nasional.

        Anggota Dewan Energi Nasional Kholid Syeirazi mengatakan, Indonesia memiliki sekitar 600 juta ton batu bara kalori rendah (low rank), yang belum dimanfaatkan secara optimal dan dapat dikonversi menjadi DME.

        “Jadi LPG kita enggak punya, kalau batu bara kita punya."

        "Kita punya ada sekitar 600 juta ton batu bara yang bisa dimanfaatkan dengan cara konversi menjadi DME, dimetil eter itu,” kata Kholid kepada Warta Ekonomi, Selasa (10/3/2026).

        Menurutnya, pengembangan DME menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, yang saat ini masih sangat tinggi.

        Dari total kebutuhan sekitar 8 juta ton per tahun, sekitar 80% masih dipenuhi dari impor.

        “DME itu nanti diproyeksikan untuk mengurangi ketergantungan impor LPG, karena LPG ini kan kita sudah 80 persen impor ya, sekitar 7,2 juta kita impor dari total kebutuhan itu,” ungkapnya.

        Ia menjelaskan, langkah tersebut juga dilatarbelakangi pertimbangan ketahanan energi, di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi.

        Menurutnya, dalam kondisi tertentu seperti konflik atau gangguan distribusi energi global, ketergantungan terhadap impor dapat menimbulkan risiko bagi pasokan energi domestik.

        “Sekarang apalagi dengan konfigurasi geopolitik Timur Tengah yang sekarang sedang bergejolak."

        "Kita tahu mekanisme pasar itu tidak bisa sepenuhnya dipercaya untuk menjamin keamanan pasokan kita,” papar Kholid.

        Meski demikian, Kholid mengakui sejumlah kajian menyebut pengembangan DME dari batu bara kurang ekonomis dibandingkan impor LPG.

        Namun menurut dia, keputusan tersebut tidak semata didasarkan pada pertimbangan ekonomi.

        Ia menambahkan, pemerintah tengah memastikan agar produk DME yang dihasilkan nantinya dapat diterima masyarakat baik dari sisi harga maupun kualitas.

        “Ya nanti soal aspek keekonomian, aspek keekonomian itu lagi dioptimasi untuk menjamin mutu dan harganya itu kurang lebih setara ya, kurang lebih setara."

        "Misalnya kalau nanti tetap ada subsidi, ya itu subsidi dari produksi kita sendiri, kalau LPG kan subsidi dari impor gitu, jadi enggak ada tambah nilai domestik gitu,” terangnya.

        Kholid menuturkan, cadangan batu bara kalori rendah tersebut merupakan cadangan yang terbukti saat ini masih berada di dalam bumi, dan belum dimanfaatkan secara optimal.

        “Yang 600 juta ton itu masih di perut."

        "Itu cadangan, proven reserve yang bentuknya itu sudah diketahui jumlahnya, kemudian kualitasnya,” bebernya.

        Menurutnya, permintaan batu bara kalori rendah di pasar global juga cenderung menurun, karena sebagian besar negara kini lebih membutuhkan batu bara dengan kalori tinggi.

        “Market ekspor batu bara sekarang high rank ya."

        Baca Juga: Blokade di Selat Hormuz, RI Pindahkan Impor Minyak dan LPG dari Timur Tengah

        "Yang low rank itu yang mau menyerap hanya sebagian kecil saja Cina, India itu,” ucapnya.

        Karena itu, pemanfaatan batu bara kalori rendah untuk produksi DME, dinilai dapat menjadi salah satu opsi mengurangi ketergantungan impor LPG, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya energi domestik. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: