- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Indonesia Dorong Pengembangan Kilang, Target Impor Tinggal Minyak Mentah
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah mempercepat pengembangan kilang minyak domestik sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) jadi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan penguatan kapasitas kilang diperlukan agar kebutuhan BBM nasional dapat semakin dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Dalam sidang kabinet paripurna, Bahlil menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor sejumlah produk BBM, terutama bensin, dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Karena itu, pemerintah menilai pengembangan kilang menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan pengolahan minyak mentah di dalam negeri.
“Ke depan memang tidak ada cara lain kita harus mengembangkan refinery kita, kilang-kilang kita agar semua bisa diproduksi di dalam negeri. Jadi nanti kalau lifting tidak mencapai kebutuhan, yang kita impor tinggal crude saja,” ujar Bahlil Jumat (13/3/2026).
Menurut dia, peningkatan kapasitas kilang akan memungkinkan minyak mentah yang diimpor diolah menjadi berbagai produk BBM di dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap impor produk jadi dapat ditekan sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor migas nasional.
Salah satu proyek yang diharapkan memperkuat kapasitas pengolahan domestik adalah pengembangan kilang melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan milik Pertamina yang telah diresmikan pemerintah. Bahlil mengatakan proyek tersebut membantu mengurangi impor BBM nasional.
“Kilang Balikpapan yang sebelumnya bertahun-tahun tidak selesai akhirnya bisa kita resmikan. Ini akan sangat membantu dalam mengurangi impor bensin sekitar 5,5 juta ton dan impor solar sekitar 3,5 juta ton,” katanya.
Saat ini Indonesia masih mengimpor minyak mentah dari sejumlah negara untuk memenuhi kebutuhan kilang domestik. Bahlil menyebut sekitar 20% impor crude berasal dari kawasan Timur Tengah, sementara sisanya diperoleh dari negara lain seperti Angola, Nigeria, Brasil, Amerika Serikat, hingga Malaysia.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah untuk memperkuat cadangan energi nasional. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah tengah meningkatkan kapasitas fasilitas penyimpanan energi guna memperkuat ketahanan pasokan nasional.
Menurut Yuliot, kapasitas cadangan energi Indonesia saat ini berada di kisaran lebih dari 20 hari. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas tersebut secara bertahap hingga mencapai sekitar 60 hari melalui pembangunan fasilitas penyimpanan baru serta revitalisasi infrastruktur yang sudah ada.
Baca Juga: Rusia Sambut Baik Pelonggaran Sanksi Minyak oleh AS, Ukraina dan Eropa Khawatir
“Untuk storage itu ada cadangan operasional dan juga cadangan strategis. Ke depan kita akan meningkatkan kapasitas cadangan tersebut secara bertahap,” ujar Yuliot.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Aldi Ginastiar