Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Krisis Timur Tengah Jadi Titik Balik Mobil Listrik Pabrikan China Kuasai Pasar Otomotif Dunia

        Krisis Timur Tengah Jadi Titik Balik Mobil Listrik Pabrikan China Kuasai Pasar Otomotif Dunia Kredit Foto: Lestari Ningsih
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran diperkirakan akan mempercepat adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) secara global.

        Kondisi ini dinilai berpotensi menjadi momentum bagi industri otomotif China untuk memperkuat dominasinya di pasar dunia.

        Direktur Riset Transisi Energi di Wood Mackenzie, David Brown, mengatakan gejolak di Selat Hormuz dapat menjadi titik balik bagi percepatan adopsi kendaraan listrik.

        Ia menyebut lonjakan harga minyak global hingga sekitar 50 persen sepanjang bulan ini menjadi faktor pendorong utama peralihan konsumen dari kendaraan berbahan bakar fosil ke EV.

        "Penutupan Selat Hormuz bisa menjadi titik balik (game-changer) bagi kendaraan listrik," kata David Brown dikutip dari South China Morning Post.

        Brown menambahkan bahwa lonjakan harga minyak global yang mencengangkan hingga 50 persen sepanjang bulan ini akan semakin mendorong konsumen untuk segera beralih ke EV.

        Pada perdagangan Senin, harga minyak mentah Brent crude tercatat berada di atas 100 dolar AS per barel di tengah tekanan kenaikan harga yang berkelanjutan.

        Situasi ini diperparah oleh ancaman Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu sebelumnya. Ia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak segera membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya untuk lalu lintas pelayaran dalam waktu 48 jam.

        Menurut Brown, di negara-negara yang memiliki akses terhadap EV murah produksi China, keunggulan kendaraan listrik dibandingkan mobil berbahan bakar bensin akan semakin cepat terasa.

        Ia juga mencatat bahwa Brasil kini menjadi pasar luar negeri terbesar bagi produsen EV asal China, BYD.

        Pandangan serupa disampaikan Ekonom Asia di HSBC, Justin Feng. Ia menilai harga minyak yang tinggi dan fluktuatif membuat EV semakin menarik sebagai solusi penghematan biaya, terutama jika konflik berlangsung lebih lama. Kondisi ini diyakini akan mempercepat elektrifikasi transportasi darat di kawasan Asia.

        Berdasarkan laporan lembaga think tank Ember, saat ini terdapat 39 negara di mana penjualan EV telah melampaui 10 persen dari total penjualan mobil. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan hanya empat negara pada 2019. Negara berkembang juga disebut mulai mengejar bahkan melampaui negara maju dalam adopsi kendaraan listrik.

        Meningkatnya permintaan global terhadap EV dinilai menjadi peluang besar bagi industri otomotif China. Data menunjukkan pabrikan mobil China memimpin penjualan kendaraan global pada 2025, mengakhiri dominasi Jepang yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

        Produsen besar seperti BYD dan Geely dilaporkan berhasil melampaui pesaing asal Jepang seperti Nissan dan Honda dari sisi penjualan. Dari 20 produsen mobil terbesar dunia, enam di antaranya berasal dari China, sementara lima dari Jepang.

        Selain itu, ekspor kendaraan China juga mencatat pertumbuhan signifikan. Data asosiasi dealer mobil China menunjukkan total ekspor mencapai 8,32 juta unit tahun lalu, meningkat 30 persen secara tahunan. Ekspor EV sendiri mencapai 2,32 juta unit atau naik 38 persen. Pasar utama ekspor meliputi Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

        Meski demikian, risiko tetap membayangi. Feng memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mengganggu pasokan energi yang masih dibutuhkan dalam proses produksi EV yang intensif energi.

        Negara seperti Thailand dinilai rentan terhadap gangguan tersebut karena ketergantungan tinggi pada impor energi dari kawasan Teluk. Sebaliknya, China diperkirakan lebih tahan terhadap guncangan berkat rantai pasok yang kuat serta fleksibilitas energi yang lebih baik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: