Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kinerja AMMN Tertekan, Dampak Larangan Ekspor dan Smelter

        Kinerja AMMN Tertekan, Dampak Larangan Ekspor dan Smelter Kredit Foto: Amman
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membukukan laba bersih sebesar US$258 juta dengan margin 14% pada 2025. Posisi ini turun hampir 60% dibandingkan dengan periode 2024 yang mencapai US$642 juta dengan margin hingga 24%.

        Manajemen AMMN menjelaskan kinerja keuangan 2025 yang menyusut tersebut, mencerminkan dampak larangan ekspor konsentrat di awal tahun serta proses ramp‑up smelter. 

        Sepanjang tahun, smelter AMMN mengalami penghentian sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk perbaikan Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant. Pekerjaan ini merupakan aktivitas yang kompleks dan krusial untuk memastikan keandalan peralatan dan stabilitas operasional. 

        "Setelah perbaikan selesai, operasi smelter kembali stabil menjelang akhir tahun. Secara paralel, kami memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025, yang memberikan fleksibilitas tambahan selama fase ramp‑up smelter," tulis manajemen AMMN dikutip dari keterbukaan, Kamis (26/3/2026).

        Kinerja 2025 turut dipengaruhi oleh volume material yang ditambang pturun 9% dari tahun ke tahun. Penurunan ini dianggap wajar mengingat t2024 merupakan puncak volume penambangan, salah satu yang tertinggi sepanjang umur tambang Batu Hijau. 

        "Sesuai rencana tambang, pasca 2024 volume penambangan kembali normal. Kegiatan penambangan sepanjang tahun berfokus pada pengupasan lapisan batuan penutup dan penambangan bagian terluar bijih Fase 8 yang ditandai dengan bijih berkadar rendah hingga menengah," jelas dia 

        Volume bijih segar yang ditambang meningkat 60% secara tahunan namun, kadar bijih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai dampaknya—jarak angkut yang lebih jauh, harga bahan bakar yang lebih tinggi, serta volume material yang ditambang yang lebih rendah—biaya penambangan per unit tahun 2025 meningkat 10% YoY, dari US$2,24/ton menjadi US$2,54/ton.

        Di sisi lain, produksi konsentrat mencapai 446.563 metrik ton kering pada 2025, turun 41% YoY. Produksi tembaga dan emas masing‑masing sebesar 209 juta pon dan 102.758 ons, mencerminkan penurunan tahunan sebesar 47% dan 87%. 

        "Penurunan produksi logam dibandingkan tahun lalu sudah diantisipasi, karena bijih yang dikelola di pabrik konsentrator selama masa transisi berasal dari stockpiles dan bijih segar berkadar rendah dari Fase 8," jelas manajemen.

        Baca Juga: Riset UI Ungkap Aktivitas AMMAN Sumbang Rp173 Triliun ke PDB

        Baca Juga: IHSG Sesi I Melesat 1,30% ke 7.199, BUMI, ASII dan AMMN Top Gainers LQ45

        Namun demikian, pencapaian operasional tetap solid dibandingkan panduan kinerja. Produksi konsentrat setahun penuh melampaui panduan kinerja sebesar 4% dan produksi emas sebesar 14%, sementara produksi tembaga 8% di bawah target.

        Di sisi lain, Perseroan juga mencatat total utang per 31 Desember 2025 sebesar US$6.432 juta, meningkat 50% YoY. Dengan kas dan setara kas konsolidasian sebesar US$677 juta, total utang bersih mencapai US$5.756 juta. 

        "Profil jatuh tempo utang disusun secara strategis untuk mendukung rencana ekspansi, dengan jadwal pembayaran kembali yang terkonsentrasi di akhir masa pinjaman guna mendukung pertumbuhan jangka panjang," sebut Perseroan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: