Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pertamina Geothermal (PGEO) Raih PROPER Emas 15 Kali Beruntun

        Pertamina Geothermal (PGEO) Raih PROPER Emas 15 Kali Beruntun Kredit Foto: PGEO
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) atau PGEO kembali menorehkan pencapaian membanggakan di bidang lingkungan dan sosial. Dalam ajang yang digelar di Jakarta pada Selasa, 7 April 2026, PGEO berhasil meraih penghargaan PROPER Emas untuk Area Kamojang dan Area Ulubelu.

        Capaian ini bukan yang pertama. Area Kamojang bahkan sudah mengoleksi PROPER Emas selama 15 tahun berturut-turut, sementara Area Ulubelu meraih penghargaan yang sama untuk keempat kalinya.

        Prestasi ini semakin menegaskan posisi PGE sebagai perusahaan energi hijau kelas dunia yang tak hanya fokus pada produksi energi bersih, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

        “PROPER Emas merupakan bukti dari cara kami beroperasi, yang mengintegrasikan keunggulan teknis dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial yang terukur. Kami ingin memastikan bahwa setiap tetes uap panas bumi yang kami manfaatkan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Ini adalah wujud nyata kontribusi PGE dalam mendukung ketahanan energi dan pangan nasional,” ujar Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani.

        Di Area Kamojang, keberhasilan mempertahankan PROPER Emas ditopang oleh inovasi sosial bertajuk KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal for All's Harmony). Program ini mengintegrasikan pemanfaatan uap panas bumi dan limbah non-B3 untuk mendukung ekosistem pertanian dan perikanan berkelanjutan.

        Hasilnya cukup signifikan. Program ini telah memproduksi 193,8 ton pupuk GeO-Fert yang digunakan pada 12,34 hektar lahan pertanian. Di sektor perikanan, teknologi kolam berpenghangat panas bumi mampu meningkatkan bobot ikan dari 200 gram menjadi 330 gram per ekor, sekaligus mempercepat masa panen hingga 25%.

        Secara keseluruhan, KANYAAH menjangkau 4.397 penerima manfaat dengan total penghasilan masyarakat mencapai Rp3,08 miliar. Nilai Social Return on Investment (SROI) tercatat sebesar 5,10.

        Dari sisi lingkungan, program ini juga berhasil menekan emisi hingga 146,28 ton CO₂e per tahun serta mengurangi sampah organik sebesar 232 ton per tahun.

        Sementara itu, Area Ulubelu yang memiliki kapasitas terpasang 220 megawatt (MW) dan menyuplai sekitar 20% kebutuhan listrik Provinsi Lampung, turut berkontribusi melalui inovasi unggulan STREAM dan SAI BUMI JEJAMA.

        STREAM (Steam Redistribution and Adjustment Method) menjadi solusi teknis yang mampu mengoptimalkan aliran uap dari sumur produksi melalui penambahan satellite separator. Inovasi ini berhasil menurunkan emisi hingga 28.513 ton CO₂e.

        Bahkan, program ini dinobatkan sebagai Best Decarbonization Program di Subholding Power & New Renewable Energy PT Pertamina (Persero) pada 2024 dan meraih penghargaan Platinum dalam Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2025.

        Baca Juga: Produksi Cetak ATH, Pertamina Geothermal (PGEO) Raih Pendapatan Rp7,35 Triliun di 2025

        Baca Juga: PGE Pastikan PLTP Lahendong Tetap Beroperasi Stabil Pasca Gempa Sulut M 7,3

        Di sisi sosial, program SAI BUMI JEJAMA (Sustainable Agriculture for Building a Healthy Food System Community Through Joint Action and Mutual Aid) mengusung konsep ekonomi sirkuler berbasis panas bumi.

        Program ini memanfaatkan filler menara pendingin untuk kegiatan pertanian dan perikanan, termasuk produksi pupuk serta budidaya melon.

        Dari program tersebut, tercatat hasil produksi berupa 8 ton ikan per tahun, 674 kg sayuran, serta 120 ton pupuk organik dengan nilai SROI sebesar 3,9.

        “Ke depan, PGE akan terus memperkuat program sosial dan pemberdayaan masyarakat di seluruh wilayah operasi. PGE memastikan bahwa energi panas bumi yang dikelola tidak hanya berkontribusi pada dekarbonisasi nasional, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat. Hal ini selaras dengan semangat Asta Cita Pemerintah dalam membangun kemandirian energi dan ketahanan pangan Indonesia,” tutup Ahmad Yani.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: