Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Penggunaan Rudal Oreshnik Jadi Bukti Rusia Mulai Kehabisan Jalan di Ukraina, Kata Prancis

Penggunaan Rudal Oreshnik Jadi Bukti Rusia Mulai Kehabisan Jalan di Ukraina, Kata Prancis Kredit Foto: BBC
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras penggunaan rudal balistik hipersonik Oreshnik oleh Rusia dalam serangan besar-besaran ke Ukraina.

Macron menilai penggunaan rudal canggih yang mampu membawa hulu ledak nuklir itu menjadi tanda bahwa perang agresi Rusia mulai menemui jalan buntu.

Baca Juga: Pernah Pecah Kini Jadi Mitra Tanpa Batas, Tarik Ulur Hubungan Rusia dan Cina

“Serangan Rusia terhadap target sipil di Ukraina terus berlanjut... Prancis mengutuk serangan ini dan penggunaan rudal balistik Oreshnik,” tulis Macron melalui platform X, Minggu (24/5/2026).

Ia menegaskan, eskalasi penggunaan senjata strategis seperti Oreshnik menunjukkan semakin seriusnya konflik yang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.

Serangan besar-besaran itu terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan membalas serangan Ukraina di wilayah pendudukan Rusia.

Menurut angkatan udara Ukraina, Rusia meluncurkan sekitar 600 drone dan 90 rudal dalam serangan yang menghantam berbagai wilayah, termasuk ibu kota Kyiv.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengatakan dua orang tewas di ibu kota dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Sementara dua korban tewas lainnya dilaporkan berada di wilayah sekitar Kyiv.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkap bahwa Rusia menggunakan rudal hipersonik Oreshnik dalam serangan tersebut.

“Tiga rudal Rusia menghantam fasilitas penyediaan air, sebuah pasar terbakar, puluhan bangunan tempat tinggal rusak, beberapa sekolah biasa, dan dia (Putin) meluncurkan 'Oreshnik'-nya ke Bila Tserkva,” kata Zelensky melalui Telegram.

“Mereka benar-benar gila,” sambungnya.

Menurut Ukraina, sebagian besar serangan berhasil dicegat, termasuk 549 drone dan 55 rudal. Namun penggunaan Oreshnik memicu kekhawatiran baru karena rudal itu dikenal memiliki kemampuan sangat sulit dihentikan.

Penggunaan rudal strategis tersebut dinilai memperlihatkan bahwa Rusia mulai meningkatkan tekanan militer setelah perang berkepanjangan gagal menghasilkan kemenangan cepat.

Baca Juga: Xi Jinping Murka Usai Ledakan Tambang Batu Bara China Tewaskan 90 Orang

Bagi negara-negara Barat, keputusan Moskow memakai Oreshnik bukan hanya soal serangan militer biasa, tetapi juga sinyal politik dan psikologis untuk menunjukkan kekuatan strategis Rusia di tengah perang yang belum menemukan titik akhir.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar