Iran Sebut Amerika Serikat Ubah-ubah Syarat Damai, Kesepakatan Islamabad Gagal
Kredit Foto: Istimewa
Iran menyayangkan kegagalan negosiasi damai yang dijalannyanya bersama dengan Amerika Serikat. Menurutnya, Washington menjadi alasan gagalnya kesepakatan tercapai di Islamabad, Pakistan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi menyatakan bahwa negaranya telah bernegosiasi dengan itikad baik dalam upaya mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. Namun, menurutnya perundingan gagal saat hampir mencapai kesepakatan yang disebutnya sebagai “Islamabad MoU”.
Baca Juga: Siap Lawan Blokade, Iran Sebut Amerika Serikat Jadi Penyebab Kebuntuan Negosiasi di Pakistan
Araqchi menilai kegagalan terjadi karena perubahan sikap dari Amerika Serikat. Washington dalam tahap akhir negosiasi menunjukkan tuntutan yang semakin berlebihan (maximalism), perubahan syarat secara sepihak (shifting goalposts) hingga tekanan tambahan berupa blokade dari Selat Hormuz.
“Iran terlibat negosiasi dengan itikad baik untuk mengakhiri perang. Kami hanya tinggal selangkah lagi dari kesepakatan, tetapi menghadapi perubahan tuntutan dan blokade,” ujar Araqchi.
Amerika Serikat juga menurutnya menunjukkan tidak adanya pembelajaran dari proses diplomasi sebelumnya. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan selalu siap dalam menghadapi segala manuver dari Amerika Serikat.
"Tidak ada pelajaran yang dipetik oleh Amerika Serikat. Niat baik melahirkan niat baik. Permusuhan melahirkan permusuhan," kata Araqchi.
Diketahui, Pembicaraan Islamabad merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979
Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik. Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.
Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.
Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.
Pernyataan Iran menunjukkan jurang perbedaan antara kedua negara masih lebar, terutama terkait isu strategis seperti nuklir dan kontrol jalur energi. Tanpa kompromi dari kedua pihak, peluang tercapainya kesepakatan damai jangka panjang masih terlihat jauh.
Baca Juga: Tegaskan Kendali Selat Hormuz, Iran Respons Tegas Wacana Blokade Amerika Serikat
Kebuntuan ini terjadi hanya beberapa hari setelah pengumuman gencatan senjata dua pekan, yang kini berada dalam posisi rapuh. Dengan retorika keras dari kedua pihak risiko eskalasi kembali meningkat dan prospek perdamaian jangka panjang masih belum pasti di Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: