Inggris hingga Jepang, Sejumlah Negara Kecam Tewasnya Tentara Indonesia di Lebanon
Kredit Foto: Istimewa
Kanada, Inggris, Australia, Jepang hingga Indonesia mengecam keras tewasnya pasukan penjaga perdamaian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon. Pasukan tersebut diketahui tewas ketika adanya serangan dari Israel ke Beirut.
Dalam pernyataan bersama, total sepuluh negara menyuarakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi kemanusiaan di Lebanon. Negara-negara tersebut mendesak penghentian segera kekerasan yang terus meningkat.
Baca Juga: Trump Kembali Serang Paus Leo, Kini Ungkit Soal Nuklir Iran
"Australia, Brasil, Kanada, Kolombia, Indonesia, Jepang, Yordania, Sierra Leone, Swiss, dan Inggris tetap sangat prihatin atas memburuknya situasi kemanusiaan dan krisis pengungsi di Lebanon," kata negara-negara tersebut.
Negara-negara tersebut juga menyoroti meningkatnya risiko terhadap pekerja kemanusiaan dalam wilayah konflik. Mereka juga mengecam tindakan yang berakibat pada tewasnya tiga pasukan penjaga perdamaian asal Indonesia.
"Kami mengutuk keras tindakan yang telah menewaskan pasukan penjaga perdamaian dan secara signifikan meningkatkan risiko yang dihadapi oleh personel kemanusiaan di Lebanon Selatan," kata negara-negara tersebut.
Negara-negara tersebut juga menyambut gencatan senjata dari Amerika Serikat, Israel dan Iran. Namun, Lebanon juga harus ikut masuk gencatan dan tidak boleh diabaikan dalam upaya perdamaian.
"Kami menyambut baik gencatan senjata yang disepakati antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kami menyerukan penghentian segera permusuhan di Lebanon," katanya.
Adapun Perserikatan Bangsa-Bangsa soal tewasnya tiga tentara perdamaian menyebut temuan awal menunjukkan satu korban tewas akibat proyektil tank dari Israel. Dua lainnya akibat alat peledak yang diduga dipasang oleh Kelompok Hezbollah.
Lebanon sendiri diserang Israel di Maret. Serangan terhadap wilayahnya menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa sekitar 1,2 juta warga mengungsi. Serangan Tel Aviv sendiri dibalas oleh Hezbollah. Hal ini memiliki keterkaitan dengan perang dari Iran dan Amerika Serikat.
Terbaru, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan bahwa peluang dimulainya kembali negosiasi untuk mengakhiri perang keduanya sangat besar. Ia kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.
"Indikasi yang kami miliki menunjukkan bahwa kemungkinan besar pembicaraan ini akan dimulai kembali," kata Guterres.
Guterres mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan pejabat tinggi setempat, dan memuji peran negara tersebut dalam mendorong proses perdamaian. Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan dari Iran dan Amerika Serikat. Ia berperan sebagai mediator utama.
Ia juga menegaskan bahwa keberlanjutan gencatan senjata menjadi faktor krusial agar negosiasi dapat berjalan efektif. Menurutnya, proses diplomasi harus disertai stabilitas di lapangan.
Baca Juga: Wapresnya Trump: Iran Belum Percaya Komitmen Negosiasi Amerika Serikat
"Saya pikir tidak realistis untuk mengharapkan masalah yang begitu kompleks, masalah yang berkepanjangan, dapat diselesaikan pada sesi pertama negosiasi. Jadi kita perlu negosiasi untuk terus berlanjut, dan kita perlu gencatan senjata untuk tetap berlaku selama negosiasi berlangsung," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: