Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wapresnya Trump: Iran Belum Percaya Komitmen Negosiasi Amerika Serikat

Wapresnya Trump: Iran Belum Percaya Komitmen Negosiasi Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat mengakui bahwa rasa percaya menjadi salah satu tantangan dalam negosiasi dengan Iran. Menurutnya, masih sulit untuk menghentikan perang yang sudah berkecambuk lebih dari satu bulan di Timur Tengah.

Wakil Presiden Amerika Serikat, James David Vance, mengakui masih adanya ketidakpercayaan mendalam antara Washington dan Iran. Hal itu menjadi salah satu alasan belum tercapainya kesepakatan di Pakistan.

Baca Juga: PBB Bawakan Kabar Baik Soal Negosiasi Amerika Serikat-Iran

"Tentu saja, ada banyak ketidakpercayaan antara Iran dan Amerika Serikat. Anda tidak akan menyelesaikan masalah itu dalam semalam," kata Vance.

Meski demikian, ia menyebut bahwa keduanya menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan. Iran menurutnya juga terbuka untuk negosiasi selanjutnya di Pakistan.

“Saya merasa sangat baik dengan posisi kita saat ini,” katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan bahwa peluang dimulainya kembali negosiasi untuk mengakhiri perang keduanya sangat besar. Ia kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.

"Indikasi yang kami miliki menunjukkan bahwa kemungkinan besar pembicaraan ini akan dimulai kembali," kata Guterres.

Guterres mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan pejabat tinggi setempat, dan memuji peran negara tersebut dalam mendorong proses perdamaian. Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan dari Iran dan Amerika Serikat. Ia berperan sebagai mediator utama.

Diketahui, Pembicaraan Islamabad yang pertama gagal membuatkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Ia sendiri merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979

Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik. Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.

Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf mengkritik sikap dari Amerika Serikat. Menurutnya, Washington adalah penyebab kegagalan negosiasi damai yang dijalankan keduanya di Islamabad, Pakistan.

Baca Juga: Usai Dikecam Trump, Paus Leo Kini Peringatkan Bahaya Demokrasi Berubah Jadi 'Tirani Mayoritas'

Menurut Qalibaf, Amerika Serikat telah gagal membangun kepercayaan dalam perundingan kedua negara. Ia menyebut timnya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement