Iran Tegaskan Tak Akan Serahkan Uranium ke AS, Peringatkan Balasan Blokade Selat Hormuz
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah Iran secara tegas menutup peluang untuk memindahkan pasokan uranium yang telah diperkayanya ke negara asing. Penyerahan aset nuklir tersebut ke tangan Amerika Serikat juga dipastikan tidak pernah masuk ke dalam opsi pertimbangan Teheran.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam siaran televisi pemerintah IRIB pada Jumat (17/4).
Dalam kesempatan tersebut, Baghaei juga meluruskan spekulasi publik terkait pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, yang sebelumnya menyebut Selat Hormuz akan "dibuka sepenuhnya" untuk pelayaran komersial.
Baghaei menekankan bahwa langkah itu murni merupakan bagian dari implementasi kesepakatan gencatan senjata 8 April antara Iran dan AS, bukan sebuah sinyal keterbukaan diplomasi baru.
"Kami tidak mencapai kesepakatan baru apa pun. Perjanjian tersebut adalah murni kelanjutan dari gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April lalu," tegas Baghaei.
Ia menjelaskan, keputusan Teheran untuk memberlakukan persyaratan jalur aman bagi kapal komersial di Selat Hormuz diambil tak lama setelah gencatan senjata di Lebanon mulai berlaku pada hari Jumat.
Lebih lanjut, Baghaei melontarkan tudingan bahwa AS telah gagal mematuhi komitmennya sejak awal masa gencatan senjata bergulir. Menurut pandangan Teheran, kesepakatan 8 April seharusnya mencakup klausul untuk memperluas jangkauan gencatan senjata hingga ke teritori Lebanon.
Namun, klaim Iran mengenai adanya klausul tersebut secara tegas telah dibantah oleh pemerintah AS maupun Israel.
Merespons memanasnya dinamika ini, Iran mengeluarkan peringatan keras. Teheran mengancam akan segera mengambil "langkah balasan" apabila armada angkatan laut AS terus melanjutkan blokadenya di perairan Selat Hormuz.
Baghaei juga menepis isu yang beredar mengenai adanya perbincangan untuk memperpanjang masa gencatan senjata. Ia menegaskan bahwa upaya mediasi diplomatik yang saat ini dipimpin oleh Pakistan tetap difokuskan pada dua hal: mengakhiri konflik secara komprehensif dan melindungi kepentingan nasional Iran.
Sebagai informasi, ketegangan di jalur perairan strategis Selat Hormuz telah mengalami eskalasi sejak 28 Februari lalu. Saat itu, Iran secara sepihak melarang kapal-kapal komersial yang dimiliki atau terafiliasi dengan entitas Israel dan AS untuk melintas. Langkah ini diambil Teheran sebagai respons atas serangan gabungan yang menyasar wilayah Iran.
Tindakan tersebut kemudian dibalas oleh Washington. AS memberlakukan blokade laut yang secara efektif mencegah kapal-kapal niaga masuk maupun keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran, terlebih setelah putaran awal perundingan damai di Islamabad berujung buntu pada akhir pekan lalu.
Meski demikian, pintu diplomasi tampaknya belum sepenuhnya tertutup. Mengutip sumber-sumber yang dekat dengan proses negosiasi, media Axios pada Jumat (17/4) melaporkan bahwa putaran kedua perundingan antara AS dan Iran dijadwalkan akan kembali digelar di Pakistan pada akhir pekan ini, dengan proyeksi kemungkinan besar akan dilangsungkan pada Minggu (19/4).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: