Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
PT Astra International Tbk menyatakan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak terhadap bisnis perseroan, terutama pada sektor logistik dan ketersediaan bahan baku utama.
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan ketidakpastian distribusi dan pasokan material turut memengaruhi operasional berbagai sektor usaha di Indonesia, tidak hanya Astra.
“Kami juga merasakan adanya dampak terhadap logistik dan ketersediaan raw material,” kata Rudy dalam konferensi pers di Menara Astra, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Astra mengambil sejumlah langkah mitigasi, salah satunya mencari sumber alternatif bahan baku ketika pasokan utama mengalami keterbatasan.
Sebagai contoh, ketersediaan plastik sebagai material industri sempat menjadi tantangan. Astra kemudian melakukan diversifikasi pemasok guna menjaga kesinambungan produksi.
“Kita semua tahu bahwa pasokan plastik memang cukup sulit. Jadi salah satu inisiatifnya adalah mencari source alternatif. Begitu juga dengan rute distribusi,” ujar Rudy.
Baca Juga: Kursi Pucuk Astra Berganti, Rudy dan Chatib Basri Masuk Jajaran Elite
Baca Juga: Astra Tebar Dividen Rp390 per Saham Totalnya Rp15,67 Triliun, Cek Jadwal Cairnya!
Baca Juga: Astra Yakin Tetap Raja Otomotif RI Meski EV China dan Korea Menyerbu
Di tengah ketidakpastian global, Rudy menilai kekuatan utama Astra terletak pada struktur bisnis yang terdiversifikasi. Portofolio Astra mencakup sektor otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, agribisnis, infrastruktur, hingga ritel.
“Dari pengalaman sebelumnya, ketika sektor ritel melemah, sektor komoditas justru menguat, dan sebaliknya. Itu yang membuat portofolio Astra cukup berimbang dan menjadikan Astra cukup resilient,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: