'Tolong Saya,' Dua Sosok Ini Jadi Kunci Prabowo Bongkar Korupsi Dadan Hindayana di MBG
Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo Subianto mengungkap bahwa terbongkarnya dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN) tidak terjadi secara tiba-tiba. Di balik penetapan tersangka terhadap mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua mantan wakilnya, terdapat langkah khusus yang melibatkan dua lembaga strategis negara, yakni Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Prabowo mengaku memanggil langsung Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh dan Kepala PPATK Ivan Yustiavandana setelah menerima berbagai laporan mengenai dugaan masalah dalam tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: 'Aku Doakan Kualat,' Prabowo Turunkan 'Mata dan Telinga' Demi Awasi Setiap Dapur MBG
Menurut Presiden, laporan yang masuk ke meja kerjanya tidak bisa diabaikan karena menyangkut program prioritas nasional yang menyentuh jutaan masyarakat Indonesia.
“Waktu saya mendapat laporan-laporan itu saya panggil Kepala BPKP dan juga Kepala PPATK, dan saya panggil berapa pejabat lain, saya tanya 'Tolong saya mendapat laporan tentang BGN',” kata Prabowo, dikutip Jumat (5/6).
Keterlibatan BPKP dan PPATK menunjukkan bahwa Presiden tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi juga meminta penelusuran terhadap aspek keuangan dan aliran dana yang terkait dengan pelaksanaan program MBG.
Berdasarkan informasi yang terungkap, pertemuan penting antara Presiden dan dua pimpinan lembaga tersebut sempat dijadwalkan berlangsung pada Senin malam, 1 Juni 2026. Namun agenda itu mengalami penyesuaian dan baru terlaksana pada Selasa siang di kawasan Widya Chandra, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menerima paparan mengenai hasil penelusuran awal yang dilakukan kedua lembaga pengawas tersebut.
Tidak lama setelah menerima laporan, Presiden menggelar rapat tertutup lanjutan di Wisma Danantara. Rangkaian pertemuan itu kemudian berujung pada keputusan besar untuk merombak jajaran pimpinan BGN.
Pada Selasa malam, pemerintah secara resmi mengumumkan pencopotan Dadan Hindayana, Lodewyk Pusung, dan Sony Sanjaya dari jabatan mereka di BGN.
Kurang dari 24 jam kemudian, Kejaksaan Agung menetapkan ketiganya sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG periode 2025-2026.
Prabowo mengakui keputusan tersebut bukan perkara mudah. Ia menyebut para pejabat yang dicopot merupakan orang-orang yang selama ini dipercaya mengemban tugas besar menjalankan program unggulan pemerintah.
Meski demikian, Presiden menegaskan kepentingan rakyat harus ditempatkan di atas segala bentuk kedekatan personal.
Ia juga mengungkap bahwa laporan mengenai dugaan kejanggalan dan penyelewengan di tubuh BGN sebenarnya telah diterimanya sejak beberapa waktu lalu. Menurut Prabowo, kualitas sebuah organisasi sangat ditentukan oleh integritas para pemimpinnya.
“Dalam setiap organisasi selalu pengaruh pimpinan sangat, sangat besar. Pemimpin baik, organisasi baik. Pemimpin tidak baik, organisasi tidak baik. Apalagi pemimpin tidak benar, tidak kompeten, atau tidak jujur,” tegasnya.
Baca Juga: MBG di Tangan Tepat? Nanik S Deyang Buka-bukaan Soal Ijazah Aslinya di Hari-Hari Awal Memimpin BGN
Kasus yang menjerat mantan pimpinan BGN tersebut kini menjadi salah satu perkara korupsi terbesar yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan program MBG. Keterlibatan BPKP dan PPATK sejak tahap awal juga memperlihatkan bahwa proses pengungkapan dugaan penyimpangan dilakukan melalui koordinasi lintas lembaga sebelum akhirnya masuk ke tahap penegakan hukum oleh Kejaksaan Agung.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar