Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pemerintah dan BI Siapkan Strategi Swap Currency Jaga Stabilitas Rupiah

        Pemerintah dan BI Siapkan Strategi Swap Currency Jaga Stabilitas Rupiah Kredit Foto: Dok. BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk memperluas kerja sama pertukaran mata uang (swap currency) dengan sejumlah negara mitra.

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pertemuannya dengan Gubernur BI Perry Warjiyo pada Selasa (5/5/2026) membahas penguatan skema swap currency dengan Cina, sekaligus membuka peluang kerja sama serupa dengan Jepang, Korea Selatan, dan negara lainnya.

        “Tetapi kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait dengan swap currency dengan Cina, kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” kata Airlangga dalam konpers di kantornya, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

        Melalui kerja sama tersebut, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan pembiayaan internasional. 

        Selain itu, pemerintah juga menyiapkan strategi penerbitan surat berharga negara dalam denominasi mata uang selain dolar AS, seperti yuan dan yen.

        Baca Juga: Airlangga Beberkan Penyebab Rupiah Melemah ke Rp17.424 per Dolar AS

        “Sehingga berharap nanti ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat utang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari Cina ataupun dari Yen, itu untuk menjaga tekanan terhadap US Dolar,” terangnya. 

        Di sisi lain, Airlangga menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor musiman, terutama meningkatnya kebutuhan dolar menjelang musim haji serta agenda pembayaran dividen perusahaan pada kuartal II 2026.

        Menurutnya, fenomena penguatan dolar AS juga menekan banyak mata uang negara lain, bukan hanya rupiah, seiring tingginya permintaan dolar di pasar global.

        “Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap US dolar dan biasanya juga pada saat dipadah haji, demand terhadap dolar itu meningkat,” terangnya.

        Airlangga menambahkan lonjakan kebutuhan dolar saat musim haji terjadi karena meningkatnya transaksi valuta asing untuk kebutuhan perjalanan dan layanan jemaah. 

        Sementara pada kuartal II, permintaan dolar kembali naik seiring pembayaran dividen oleh perusahaan.

        “Jadi nanti kita juga akan monitor kebutuhan tersebut, dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen, jadi demand terhadap dolar tinggi, dan kita lihat tetap monitor bagaimana dengan negara-negara lain,” tuturnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: