Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Kembali Moncer, DPR Acungi Jempol Jurus BI Lepas Ketergantungan Dolar AS

Rupiah Kembali Moncer, DPR Acungi Jempol Jurus BI Lepas Ketergantungan Dolar AS Kredit Foto: Instagram/Sufmi Dasco Ahmad
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah yang sempat tertekan akhirnya menunjukkan penguatan signifikan. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah berhasil ditutup di level Rp17.865 per dolar AS atau menguat 0,84 persen dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp18.010/20 per dolar AS.

Di tengah penguatan tersebut, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad memberikan apresiasi kepada Bank Indonesia (BI) atas berbagai langkah strategis yang dinilai mampu memperkuat posisi rupiah sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat dalam transaksi internasional.

Dasco menilai salah satu langkah penting yang dilakukan BI adalah penandatanganan kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng yang berlangsung di Shanghai, China, pada 11 Juni 2026.

Menurut Dasco, kesepakatan tersebut membuka peluang transaksi ekonomi antara Indonesia, China Daratan, dan Hong Kong menggunakan mata uang lokal masing-masing tanpa harus bergantung pada dolar AS.

"Kesepakatan itu membuat transaksi antara Indonesia, China Daratan dan Hong Kong bisa lakukan dengan menggunakan rupiah atau remimbi tanpa harus menggantungkan pada dollar Amerika Serikat," kata Dasco dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (14/6).

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Menguat Lagi, Pemertahanan Posisi Menkeu Purbaya Dinilai Beri Efek

Tak hanya itu, Bank Indonesia juga memperluas kerja sama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Local Currency Transaction (LCT) yang kini mencakup wilayah Hong Kong.

Penandatanganan MoU tersebut turut melibatkan Chief Executive Hong Kong Monetary Authority (HKMA), Eddie Yue.

Dalam kesepakatan yang sama, Indonesia dan China juga menyepakati penggunaan QRIS lintas batas negara. Langkah ini dinilai menjadi terobosan baru dalam mempermudah aktivitas bisnis dan transaksi masyarakat kedua negara.

"Sistem ini sudah melibatkan 191 penyedia layanan di China dan 24 di Indonesia semuanya terhubung," ujarnya.

Dasco menjelaskan, kehadiran QRIS lintas negara memungkinkan pelaku usaha Indonesia dan China melakukan transaksi secara langsung menggunakan sistem pembayaran digital yang telah saling terkoneksi.

Selain mendukung sektor pembayaran, kerja sama BI dan People's Bank of China juga diyakini akan memberikan dampak besar terhadap perdagangan bilateral kedua negara.

Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia dan China tercatat mencapai USD154,5 miliar. Dengan skema Local Currency Transaction, aktivitas ekspor-impor tersebut dapat dilakukan menggunakan rupiah dan renminbi tanpa perlu melalui konversi dolar AS.

Menurut Dasco, langkah ini merupakan strategi serius untuk memperkuat posisi rupiah sekaligus mengurangi kebutuhan penggunaan dolar dalam transaksi perdagangan internasional.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Kompak Menguat di Tengah Rencana Demo 'Indonesia Bangkrut'

"Ini upaya yang sangat serius mengurangi kebutuhan dollar Amerika Serikat untuk transaksi dagang. Termasuk digunakannya QRIS lintas negara antara Indonesia-China. Hal ini dilakukan BI untuk memperkuat rupiah," tambah Dasco.

Dengan berbagai terobosan tersebut, penguatan rupiah yang mulai terlihat saat ini dinilai bukan hanya dipengaruhi sentimen pasar semata, tetapi juga hasil dari langkah konkret Bank Indonesia dalam memperluas penggunaan mata uang lokal dan memperkuat sistem transaksi lintas negara.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri