Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Konflik Timur Tengah Bayangi Penjualan Isuzu

        Konflik Timur Tengah Bayangi Penjualan Isuzu Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap industri otomotif global. Tri Petch Isuzu Sales, distributor resmi kendaraan Isuzu di Thailand, terpaksa mempertimbangkan kembali target penjualan domestik dan ekspor mereka akibat terganggunya rute perdagangan dan menurunnya kepercayaan konsumen.

        Dikutip dari Bangkok Post, Presiden Tri Petch Isuzu Sales, Hiroyasu Sato, mengungkapkan bahwa konflik yang berkepanjangan ini telah memukul segmen kendaraan pikap di Thailand, kategori yang selama ini sangat bergantung pada pasar ekspor ke wilayah Timur Tengah.

        "Konflik yang berlarut-larut ini membuat kami kesulitan dalam memproyeksikan target penjualan kendaraan, baik di pasar domestik maupun internasional," ujar Sato.

        Kendala utama saat ini berada di Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial bagi pengiriman kendaraan menuju pasar Timur Tengah. Gangguan di rute ini telah mempersulit rantai logistik, menunda jadwal ekspor, dan memicu tingkat ketidakpastian yang tinggi bagi para produsen otomotif.

        Meski dihadapkan pada tantangan logistik, Isuzu memutuskan untuk mengambil sikap wait and see dan belum merevisi kapasitas produksi di pabrik perakitannya di Thailand hingga situasi kembali stabil.

        Perusahaan menyatakan kesiapannya untuk segera melanjutkan ekspor begitu jalur transportasi di selat tersebut kembali aman dan dapat diandalkan.

        Lebih lanjut, Sato mengakui bahwa efek domino ekonomi dari perang ini turut menekan daya beli konsumen di Thailand. Naiknya biaya energi, melemahnya pendapatan rumah tangga, serta sikap kehati-hatian masyarakat dalam berbelanja telah menyebabkan banyak pihak menunda pembelian mobil baru.

        "Sebelum konflik pecah, kami awalnya berharap ekonomi Thailand akan membaik seiring dengan adanya langkah-langkah stimulus dari pemerintah baru. Namun, sekarang kami harus menilai kembali situasi yang ada," tambahnya.

        Sebelum eskalasi konflik memanas pada akhir Februari lalu, Isuzu memproyeksikan total penjualan mobil domestik di Thailand tahun ini dapat mencapai 640.000 unit, naik dari 621.166 unit pada tahun 2025. Segmen pikap secara industri ditargetkan mampu menyentuh 151.000 unit.

        Untuk Isuzu sendiri, target penjualan dipatok di angka 77.500 unit, di mana 54.000 unit di antaranya diharapkan berasal dari penjualan model pikap.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: