Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        G7 Dibuat Pusing Amerika Serikat dan China, Soroti Isu Ketergantungan hingga Ancaman Tarif Trump

        G7 Dibuat Pusing Amerika Serikat dan China, Soroti Isu Ketergantungan hingga Ancaman Tarif Trump Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Group of Seven (G7) berupaya mencari titik temu untuk mengamankan pasokan mineral kritis yang selama ini didominasi China. Namun, kelompok tersebut juga dibayangi oleh ancaman baru tarif dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

        Menteri Perdagangan Luar Negeri Prancis, Nicolas Forissier mengatakan pasokan mineral kritis menjadi salah satu agenda utama yang ingin didorongnya selama presidensi dari G7.

        Baca Juga: Tak Ingin Ketergantungan Dolar, Purbaya Bakal Terbitkan Panda Bond di China Bulan Depan

        “Saya percaya kami akan membuat kemajuan yang sangat konkret terkait rare earth dan mineral kritis, mengamankan rantai pasok kami dan memastikan kami tidak disandera oleh negara tertentu,” kata Forissier.

        Dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis menurutnya telah menciptakan ketergantungan yang besar bagi negara-negara dari Barat. Pangsa pasar mineral yang digunakan dalam kendaraan listrik, turbin angin, elektronik hingga sistem pertahanan mereka begitu dominan sehingga negara tersebut mampu menekan harga untuk menyingkirkan pesaing.

        Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan, para menteri perdagangan kelompok tersebut juga menyatakan akan memastikan upaya atau ancaman untuk mempersenjatai ketergantungan ekonomi akan gagal.

        Meski China menjadi sorotan karena terdapat kesepahaman luas mengenai perlunya mengurangi ketergantungan, sejumlah pejabat yang terlibat dalam pembahasan menyebut masih ada perbedaan signifikan mengenai langkah konkret yang harus diambil. Perbedaan itu terutama muncul antara proposal dari Eropa dan Amerika Serikat.

        G7 juga dibayangi ketegangan baru terkait ancaman tarif mobil buatan Uni Eropa. Amerika Serikat diketahui ingin menaikkan ancaman tarif terhadap mobil dari wilayah tersebut menjadi 25%.

        Uni Eropa dinilai belum mematuhi kesepakatan perdagangan yang dicapai tahun lalu. Forissier sendiri menilai hal tersebut menjadi panggilan untuk terus bergerak maju dalam implementasi kesepakatan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat.

        “Kami harus memenuhi apa yang telah dijanjikan di Skotlandia,” ujarnya.

        Ia menambahkan implementasi kesepakatan tersebut ditargetkan dapat dicapai pada musim panas tahun ini.

        Adapun Uni Eropa masih berupaya menyelesaikan naskah bersama untuk mengimplementasikan kesepakatan tersebut. Namun, perbedaan pandangan mengenai mekanisme perlindungan membuat proses negosiasi berjalan lebih sulit.

        Menteri Ekonomi Jerman, Katherina Reiche mengatakan pihaknya sedang melakukan pembicaraan intensif terkait ancaman tarif dari Amerika Serikat.

        Komisioner Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic juga mengatakan dirinya telah membahas implementasi kesepakatan dengan Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer.

        “Kami berdua dengan jelas menyimpulkan bahwa penting untuk menghormati kesepakatan Turnberry dari kedua belah pihak, jadi kami harus memenuhi apa yang telah dijanjikan di Skotlandia,” kata Sefcovic.

        Baca Juga: Amerika Serikat Sebut Kuba 'Negara Gagal', Siap Ambil Tindakan di Masa Depan

        G7, selain isu mineral kritis dan tarif perdagangan,  juga membahas persoalan kelebihan kapasitas industri global yang sebagian besar bersumber dari China. Mereka juga membahasa reformasi dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: