Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Mentah Dunia Diproyeksi Tembus US$113 per Barel di Pekan Depan

        Harga Minyak Mentah Dunia Diproyeksi Tembus US$113 per Barel di Pekan Depan Kredit Foto: Kementerian ESDM
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak mentah dunia diperkirakan masih bergerak menguat dalam perdagangan pekan depan. Penguatan ini terjadi di tengah masih memanasnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) akan bergerak pada level support US$90 per barel dan resistance di kisaran US$113 per barel.

        “WTI crude oil dalam minggu depan diperdagangkan di support 90 dolar dan resistance di 113 dolar. Artinya ada indikasi harga minyak masih akan menguat,” ujar Ibrahim kepada wartawan Minggu (10/5/2026)

        Menurutnya, terdapat sejumlah faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas dunia. Salah satunya adalah ketegangan geopolitik yang hingga kini belum mereda.

        Konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz, disebut menjadi perhatian utama pelaku pasar. 

        Selain itu, ancaman Rusia terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO juga meningkatkan kekhawatiran investor global.

        Dari dalam negeri sendiri Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas telah menyiapkan tiga skenario dampak perang terhadap APBN, mulai dari optimistis, moderat, hingga pesimistis.

        Baca Juga: Harga Minyak Melejit, Bappenas Potong Pagu Kementerian dan Lembaga di 2027

        Baca Juga: Bahlil Sebut Impor Minyak Mentah dari Rusia Kemungkinan Masuk Bulan Ini

        Dalam skenario optimistis, konflik diperkirakan berlangsung selama satu hingga empat bulan dengan asumsi rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$84 per barel. Pada kondisi tersebut, tekanan terhadap defisit APBN diperkirakan mencapai 0,57% terhadap produk domestik bruto (PDB).

        Sementara dalam skenario moderat, perang diproyeksikan berlangsung hingga delapan bulan dengan asumsi ICP sebesar US$92 per barel. Kondisi itu diperkirakan mendorong tekanan terhadap defisit APBN hingga 0,92% PDB.

        Adapun pada skenario pesimistis, jika konflik berlangsung selama satu tahun penuh dengan rata-rata harga minyak mencapai US$102 per barel, tekanan terhadap defisit APBN diperkirakan membengkak hingga 1,2% PDB.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: