Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Eks Menteri Indonesia Ungkap Ada Hal Lebih Berbahaya Dibandingkan Pelemahan Rupiah

        Eks Menteri Indonesia Ungkap Ada Hal Lebih Berbahaya Dibandingkan Pelemahan Rupiah Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Eks Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar bukan hal yang terlalu mengkhawatirkan. Menurutnya, judi online hingga pinjaman online illegal telah menjadi hal yang lebih urgent untuk ditangani di Tanah Air.

        Dikutip dari X, Susi mengatakan fluktuasi nilai tukar tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga mata uang global lain seperti yen dari Jepang. Bahkan, Dolar Amerika Serikat menurutnya turut mengalami depresiasi terhadap sejumlah mata uang lainnya.

        Baca Juga: Terbongkar Operasional Sindikat Judi Online di Hayam Wuruk: Disamarkan Mirip Kantor Biasa

        “Pak Presiden Prabowo, sebetulnya dari pengamatan saya sebagai orang awam enam bulan terakhir mata uang yang terdepresiasi bukan hanya rupiah, yen juga up & down cukup signifikan. USD sendiri terdepresiasi terhadap mata uang lainnya cukup dalam,” ujar Susi.

        Namun demikian, ia justru menyoroti maraknya praktik judi online dan pinjaman online yang dinilainya lebih berbahaya bagi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat kecil.

        “Yang lebih mengkhawatirkan menurut pandangan saya judol dan pinjol yang marak menyedot banyak uang masyarakat kecil,” lanjutnya.

        Sebelumnya, nilai tukar rupiah disebut berpotensi menembus level Rp18.000. Hal itu seiring meningkatnya tensi geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.

        Kondisi tersebut turut menekan pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah tajam pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. IHSG ditutup turun 2,86 persen ke  6.969,40.

        Pasar Indonesia saat ini dihantui kekhawatiran terganggunya distribusi minyak dunia, lonjakan inflasi global, hingga potensi kebijakan agresif suku bunga oleh Federal Reserve.

        Baca Juga: Indonesia Akan Buru 'Bos Besar' Sindikat Judi Online Hayam Wuruk

        Analis menilai meningkatnya ketegangan geopolitik global membuat investor cenderung menghindari aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: