Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Diplomasi China-AS Dinilai Alot, Pertemuan Trump dan Xi Jinping Masuk Tahap 'Tawar-menawar'

        Diplomasi China-AS Dinilai Alot, Pertemuan Trump dan Xi Jinping Masuk Tahap 'Tawar-menawar' Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026 dinilai menunjukkan alotnya diplomasi antara dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut.

        Ahli China dari Stimson Center, Robert Manning, menyebut hubungan Washington-Beijing kini memasuki fase “tawar-menawar” setelah bertahun-tahun dipenuhi ketegangan perdagangan dan geopolitik.

        Baca Juga: Daftar Barang Pemberian China yang Dibuang Delegasi AS Sebelum Naik Air Force One

        Dikutip dari Straits Times, Sabtu (16/5/2026), Manning menganalisis hubungan China-AS menggunakan teori lima tahap siklus duka cita, yakni penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

        Menurut mantan pejabat intelijen dan Departemen Luar Negeri AS itu, hubungan kedua negara pada era 1990-an hingga awal 2000-an berada dalam tahap penyangkalan karena AS meyakini China akan semakin liberal dan terbuka.

        Namun setelah krisis finansial global 2008, Washington mulai menyadari asumsi tersebut tidak terjadi sehingga hubungan memasuki tahap kemarahan.

        “Lewat KTT ini, Trump dinilai mulai memasuki tahap tawar-menawar dengan menetapkan batasan pada persaingan dan mulai mengatur regulasi perdagangan,” tulis laporan tersebut.

        Meski begitu, pertemuan Trump dan Xi kali ini tidak menghasilkan pengumuman kesepakatan besar yang konkret sebagaimana ekspektasi sebelumnya.

        Trump sepulang dari Beijing hanya menyebut China berkomitmen membeli kedelai AS senilai miliaran dolar dan ratusan pesawat produksi Boeing.

        Selain itu, muncul laporan mengenai rencana pembelian produk pertanian, mesin pesawat GE, minyak, alat kesehatan, hingga pemulihan perdagangan daging sapi AS.

        Namun detail kesepakatan perdagangan yang sebelumnya disebut Trump sebagai “fantastis” masih sangat minim.

        Yang paling mengejutkan, isu tarif dagang justru tidak menjadi pembahasan utama dalam KTT tersebut.

        Mantan pejabat perdagangan AS sekaligus wakil presiden senior di Asia Society Policy Institute, Wendy Cutler, menilai hasil pertemuan jauh di bawah ekspektasi.

        “Hasil KTT ini mengecewakan, terutama karena Trump selama ini selalu memprioritaskan aspek ekonomi,” demikian analisis yang dikutip dalam laporan itu.

        Pengamat menduga China sengaja menahan diri untuk tidak mengumumkan kesepakatan besar karena masih adanya ancaman tambahan tarif dari investigasi kepabeanan AS yang sedang berlangsung.

        Selain perdagangan, diplomasi kedua negara juga dinilai berjalan alot dalam isu geopolitik.

        KTT Beijing gagal menghasilkan terobosan terkait perang Iran maupun status Taiwan.

        Meski kedua pemimpin sepakat Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan Selat Hormuz harus tetap terbuka, China disebut enggan mengambil langkah nyata terhadap Teheran di luar retorika diplomatik.

        Sementara terkait Taiwan, Xi memberikan peringatan keras kepada Trump bahwa isu tersebut merupakan masalah paling sensitif dalam hubungan China-AS.

        Xi menegaskan kesalahan langkah terkait Taiwan dapat memicu konflik militer antara kedua negara.

        Namun Trump memilih mempertahankan kebijakan ambiguitas strategis AS.

        Ketika Xi disebut menanyakan secara langsung apakah Washington akan membela Taiwan jika konflik pecah, Trump menolak memberikan jawaban tegas.

        Ia bahkan mengklaim isu tersebut tidak dibahas secara rinci dalam pertemuan mereka

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: