Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        RI Kembali Curi Perhatian Media Asing, Bloomberg Sorot Pelemahan Rupiah

        RI Kembali Curi Perhatian Media Asing, Bloomberg Sorot Pelemahan Rupiah Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kondisi perekonomian Indonesia kembali menjadi sorotan media internasional. Kali ini, giliran Bloomberg, perusahaan media dan data keuangan asal Amerika Serikat (AS), yang menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

        Melalui akun X resminya, Bloomberg menilai melemahnya nilai tukar rupiah berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) yang telah ditahan selama beberapa bulan terakhir.

        "Indonesia may see its first interest-rate hike in two years as the rupiah’s slide to record lows this week intensifies pressure for the central bank to mount a stronger defense of the currency (Indonesia mungkin akan mengalami kenaikan suku bunga pertamanya dalam dua tahun seiring merosotnya rupiah ke level terendah sepanjang masa minggu ini yang memperkuat tekanan bagi bank sentral untuk memperkuat pertahanan terhadap mata uang tersebut)," tulisnya, dikutip Rabu (20/5).

        Bloomberg juga menautkan artikel berjudul Bank Indonesia Rate Hike in Play as Rupiah Plumbs New Lows.

        Seperti diketahui, saat ini BI masih mempertahankan suku bunga di level 4,75% untuk menjaga sektor riil dan kredit perbankan agar tetap bergerak demi mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

        Seorang netizen dengan akun @ardisatriawan menyoroti semakin banyaknya media asing yang memberitakan kondisi ekonomi Indonesia.

        “Indonesia lagi masuk sorotan media luar gede ya? The Economist udah, Reuters udah, Russia Today udah, The Straits Times udah. Ini Bloomberg. Pidato berapi-apinya berhasil,” tulisnya.

        Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menanggapi isu pelemahan rupiah dengan menyebut bahwa masyarakat di desa tidak banyak menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan tersebut disampaikan saat meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026).

        Baca Juga: Rupiah Keok, Anies Baswedan: Berhentilah Beri Obat Tidur kepada Publik!

        Baca Juga: Presiden Prabowo Ungkap Arah Kebijakan Fiskal 2027, Rupiah Dijaga di Kisaran Rp16.800–Rp17.500

        "Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok," ungkapnya.

        Pidato tersebut memicu beragam tanggapan dari publik, termasuk kritik yang menilai pemerintah kurang serius dalam menghadapi kondisi ekonomi terkini.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: