Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Karena Perang, Eks Menkeu Blak-blakan Pemicu Rupiah Terus Melemah

Bukan Karena Perang, Eks Menkeu Blak-blakan Pemicu Rupiah Terus Melemah Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah sorotan terhadap melemahnya nilai tukar rupiah, mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri, justru mengungkap pandangan berbeda yang mengejutkan.

Menurutnya, penyebab utama tekanan terhadap rupiah bukanlah konflik geopolitik yang sedang memanas di Timur Tengah, melainkan faktor yang berasal dari dalam negeri.

Chatib menilai banyak pihak terlalu cepat mengaitkan pelemahan rupiah dengan perang yang melibatkan Iran dan Israel. Padahal, berdasarkan analisis yang ia lakukan, pasar lebih mencermati risiko fiskal Indonesia dibandingkan perkembangan konflik global tersebut.

"Kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang, that's not true. Kenapa? Karena negara lain juga ada akibat dari perang, tapi depresiasinya tidak sedalam Indonesia," kata Chatib di Jakarta, Selasa (9/6).

Menurut Chatib, salah satu indikator penting yang menunjukkan persepsi investor terhadap kondisi keuangan negara adalah credit default swap (CDS). Instrumen ini menggambarkan premi risiko yang harus dibayar investor untuk melindungi surat utang suatu negara dari kemungkinan gagal bayar.

Dari hasil kajiannya, sekitar 23 persen pergerakan nilai tukar rupiah ternyata berkaitan dengan perubahan CDS Indonesia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sentimen investor terhadap kondisi fiskal pemerintah memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan mata uang nasional.

Baca Juga: Indonesia Baik-Baik Saja, Eks Menkeu Chatib Basri: Kita Gak akan Resesi

"Kalau CDS-nya naik, itu risiko fiskalnya naik. Kalau dia risiko fiskalnya naik, ada nggak impact-nya terhadap rupiah? Saya coba lakukan ini, hasilnya cukup menarik. Karena 23 persen dari pelemahan rupiah itu sebetulnya bisa dijelaskan oleh CDS," ucap dia.

Chatib menegaskan bahwa kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia. Dengan kata lain, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh faktor kepercayaan pasar dibandingkan gejolak perang.

"Artinya saya bisa bilang bahwa soal kita itu adalah soal confidence risk," ujarnya.

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa kenaikan CDS Indonesia sudah terjadi sejak awal tahun, jauh sebelum konflik terbaru di Timur Tengah kembali memanas. Fakta itu menjadi alasan mengapa ia menolak anggapan bahwa perang merupakan penyebab utama depresiasi rupiah.

Menurut Chatib, investor saat ini sedang mengamati kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal, terutama dalam mengelola defisit anggaran dan mempertahankan kredibilitas keuangan negara di tengah berbagai program belanja besar yang sedang dijalankan.

Baca Juga: Chatib Basri Sebut Rupiah Tidak Seburuk 1998, tapi Ada Satu Kelompok Paling Menderita

Ia mengingatkan bahwa perlambatan penerimaan negara yang terjadi bersamaan dengan kebutuhan belanja yang tinggi berpotensi memunculkan kekhawatiran baru di pasar. Jika kondisi tersebut tidak dikelola dengan baik, sentimen negatif investor dapat terus memberi tekanan terhadap rupiah.

Karena itu, Chatib menilai persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini bukan semata-mata akibat gejolak eksternal, melainkan lebih berkaitan dengan bagaimana pemerintah menjaga kepercayaan pasar terhadap kondisi fiskal nasional. Bagi investor, stabilitas fiskal dan kepastian arah kebijakan menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibandingkan perkembangan perang di luar negeri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: