Evaluasi MBG Harus Fokus Pada Efektivitas, Bukan Utang Luar Negeri yang Diperdebatkan
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan publik dan para pemangku kebijakan agar mengarahkan fokus evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada ketepatan sasaran di lapangan, alih-alih terus memperdebatkan pengaruhnya terhadap utang luar negeri.
Direktur Indef, Esther Sri Astuti, menegaskan bahwa sangat sulit dan tidak relevan mengukur beban utang dengan program spesifik karena tidak adanya transparansi data alokasi utang per program di sistem APBN.
"Jadi kalau MBG itu sumbernya dari utang, ya nggak juga. Kita kan nggak tahu utang itu untuk apa saja, karena memang tidak ada data utang ini spesifik untuk program apa," jelas Esther saat dihubungi Warta Ekonomi, Minggu (24/5/2026).
Sebaliknya, Indef menyarankan evaluasi difokuskan pada sejauh mana implementasi MBG benar-benar efektif mengentaskan masalah gizi di titik-titik krusial seperti daerah stunting dan wilayah miskin.
"Ya, kami memandang evaluasinya untuk MBG ini bukan pada pengaruhnya ke dalam utang luar negeri, tetapi seharusnya lebih kepada efektivitasnya, " tegas Esther.
Hal ini diakui Esther, lantaran MBG masih membutuhkan alokasi belanja APBN yang berpengaruh terhadap ruang fiskal negara. Sementara kondisi ruang fiskal Indonesia saat ini terlampau kecil.
Baca Juga: Pengamat Nilai Program MBG Bisa Cetak Generasi Unggul dalam 20 Tahun
Baca Juga: Modus Jual Beli Titik Program MBG di Batam Terbongkar, Korban Rugi Rp400 Juta
"Saya melihat memang itu (program MBG) karena janji presiden, tetap harus dijalankan, ya. Jadi sebaiknya fokus utamanya itu stunting area dulu deh gitu. Dan juga daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar," terang Esther.
Ihwal publik menilai MBG turut menambah ULN, Esther membedah struktur APBN dan menyatakan bahwa utang tidak bisa secara spesifik diklaim hanya untuk mendanai satu program. Ia menjelaskan, penerimaan negara, baik dari pajak, cukai, maupun PNBP seperti bagi hasil SDA dan dividen BUMN, digunakan untuk menutupi seluruh belanja modal dan rutin.
"Kalau penerimaan negara itu lebih kecil daripada belanja, maka kita sebut APBN itu defisit. Nah, defisit itu ditambal dengan utang. Jadi kalau MBG itu sumbernya dari utang, ya nggak juga. Kita kan nggak tahu utang itu untuk apa saja, karena memang tidak ada data utang ini spesifik untuk program apa," papar Esther meluruskan asumsi yang beredar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Fajar Sulaiman