Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        VinFast Jual Lini Produksi di Vietnam Rp 9,3 Triliun, Ada Apa?

        VinFast Jual Lini Produksi di Vietnam Rp 9,3 Triliun, Ada Apa? Kredit Foto: VinFast
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        VinFast tengah menyiapkan langkah besar dalam restrukturisasi bisnisnya. Produsen mobil listrik asal Vietnam itu berencana melepas lini produksi di negara asalnya dengan nilai transaksi mencapai sekitar US$ 530 juta atau setara Rp 9,3 triliun (kurs Rp 17.698 per dolar AS).

        Disitat dari The Investor, langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari transformasi model bisnis VinFast menjadi lebih ringan aset atau asset-light.

        Berdasarkan dokumen perusahaan, VinFast akan memisahkan aset produksi dari anak usahanya, VinFast Trading and Production JSC (VFTP). Setelah proses itu rampung, seluruh saham perusahaan akan dialihkan kepada kelompok investor yang dipimpin oleh Future Investment Research and Development JSC (FIRD).

        Menariknya, pendiri sekaligus CEO VinFast, Pham Nhat Vuong, juga terlibat dalam kelompok investor tersebut.

        Restrukturisasi ini disebut sebagai strategi VinFast untuk lebih fokus pada pengembangan produk, teknologi, penguatan merek, hingga ekspansi pasar global. Dengan model bisnis baru tersebut, perusahaan diharapkan tidak lagi terbebani investasi besar pada fasilitas produksi sehingga kondisi keuangan bisa lebih sehat.

        Baca Juga: VinFast Kasih Gratis Isi Daya hingga 2029 di Stasiun V-Green untuk Pembeli Awal VF MPV 7 Rakitan Subang

        Meski melepas unit manufaktur domestik, VinFast menegaskan tetap mempertahankan bisnis produksi kendaraan. Pabrik di Vietnam nantinya masih akan memproduksi mobil listrik VinFast melalui perjanjian manufaktur antara VFVN dan VFTP.

        Produksi kendaraan tetap berjalan menggunakan desain serta standar teknis yang dikendalikan oleh VinFast. Selain itu, perusahaan juga mempertahankan fasilitas perakitan di India dan Indonesia, termasuk hak kekayaan intelektual untuk generasi terbaru kendaraan listriknya.

        Strategi Pangkas Beban Finansial

        Langkah restrukturisasi ini dinilai dapat membantu VinFast mengurangi tekanan finansial, terutama setelah perusahaan mencatat kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir akibat tingginya biaya produksi dan ekspansi.

        Tak hanya itu, restrukturisasi bisnis tersebut juga mencakup pengalihan utang sekitar US$ 6,9 miliar atau setara Rp 122,1 triliun kepada entitas baru yang akan mengambil alih bisnis manufaktur.

        Melalui skema tersebut, VinFast berharap bisa bergerak lebih fleksibel di tengah persaingan industri kendaraan listrik global yang semakin ketat.

        Baca Juga: Resmi Masuk Indonesia, VinFast Buka Pemesanan 3 Motor Listrik Baru

        Namun, langkah ini juga memunculkan perhatian sejumlah analis terkait kompleksitas transaksi serta keterlibatan pihak-pihak yang masih memiliki hubungan dengan grup usaha Vingroup.

        Meski demikian, sebagian investor menilai restrukturisasi tersebut dapat menjadi fondasi penting bagi VinFast untuk mempercepat jalan menuju profitabilitas sekaligus memperkuat ekspansi globalnya di masa depan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: