Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Cina Tidak 'Luluh' Soal AS Tunda Penjualan Senjata ke Taiwan

        Cina Tidak 'Luluh' Soal AS Tunda Penjualan Senjata ke Taiwan Kredit Foto: AFP
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Keputusan Amerika Serikat menunda penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS kepada Taiwan tidak mengubah sikap Cina terhadap hubungan militer AS dengan pulau tersebut. Beijing menegaskan penolakannya tetap berlaku, meskipun pengiriman senjata untuk sementara dihentikan karena perang Iran yang masih berlangsung.

        Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyatakan bahwa posisi negaranya terkait penjualan senjata AS ke Taiwan tidak mengalami perubahan.

        "Penentangan Cina terhadap penjualan senjata AS ke wilayah Taiwan konsisten, jelas, dan tegas," kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (22/5).

        Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat mengumumkan penundaan penjualan senjata kepada Taiwan yang nilainya mencapai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp248 triliun. Penundaan tersebut dilaporkan berkaitan dengan kebutuhan AS untuk memastikan ketersediaan amunisi di tengah perang dengan Iran yang masih berlangsung.

        Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan bahwa keputusan terkait penjualan senjata ke Taiwan belum final. Ia bahkan menyebut langkah tersebut dapat menjadi bagian dari pertimbangan diplomatik dalam hubungan dengan Cina.

        "Saya belum menyetujuinya. Kita lihat nanti apa yang terjadi. Saya mungkin akan melakukannya (menjual senjata ke Taiwan). Saya mungkin juga tidak akan melakukannya," kata Trump kepada Fox News.

        Trump mengungkapkan bahwa isu tersebut telah dibahas secara rinci dengan Presiden Cina Xi Jinping setelah lawatannya pada 13-15 Mei. Menurutnya, keputusan mengenai penjualan senjata itu akan ditentukan dalam waktu dekat.

        Meski aktivitas penjualan senjata saat ini tertunda, Cina tetap menyuarakan keberatannya terhadap hubungan resmi antara AS dan Taiwan. Guo Jiakun meminta Amerika Serikat mematuhi pemahaman bersama yang telah dicapai kedua negara serta berhati-hati dalam menangani isu Taiwan.

        Cina juga mendesak AS untuk menghentikan tindakan yang dinilai dapat memberikan dukungan kepada kelompok yang mendorong kemerdekaan Taiwan.

        "Cina mendesak AS untuk menerapkan pemahaman bersama yang penting antara kedua pemimpin Cina dan AS, menghormati komitmen dan pernyataannya, berhati-hati dalam menangani masalah Taiwan, berhenti mengirimkan pesan yang salah kepada kekuatan separatis 'kemerdekaan Taiwan', dan menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta momentum perkembangan hubungan China-AS yang stabil dengan tindakan nyata," ujar Guo.

        Di sisi lain, pemerintahan AS menjelaskan bahwa keputusan penundaan penjualan senjata berkaitan dengan kebutuhan operasional militer. Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengatakan keputusan tersebut akan ditangani oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

        Dalam Sidang Komite Senat pada Kamis (21/5), Cao menegaskan bahwa militer AS masih memiliki persediaan rudal dan sistem pencegat yang memadai. Namun, pemerintah ingin memastikan kebutuhan amunisi tetap terpenuhi untuk mendukung operasi militer yang sedang berlangsung.

        "Saat ini, kami sedang menghentikan sementara (penjualan senjata ke Taiwan) untuk memastikan kami memiliki amunisi cukup untuk operasi Epic Fury; yang sebenarnya kami punya banyak (senjata), tetapi kami hanya memastikan kami memiliki semuanya," kata Cao.

        Baca Juga: Jepang dan Taiwan Kembali Buka Rute Kapal Feri Setelah 18 Tahun Berhenti

        Meski demikian, sejumlah laporan menyebut perang Iran yang dimulai pada 28 Februari telah menyebabkan militer AS menggunakan ribuan rudal. Penggunaan tersebut dilaporkan mengurangi persediaan berbagai jenis amunisi strategis, termasuk rudal jelajah siluman jarak jauh, Tomahawk, Patriot, Precision Strike, dan ATACMS.

        Di tengah kondisi tersebut, Gedung Putih disebut tengah menyiapkan permintaan dana tambahan kepada Kongres sebesar 80-10 miliar dolar AS atau sekitar Rp1,7 kuadriliun untuk mendukung perang Iran. Sementara itu, Beijing terus menegaskan bahwa penghentian sementara penjualan senjata tidak mengubah keberatannya terhadap setiap bentuk dukungan militer AS kepada Taiwan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: