Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran Tolak Desakan Trump Buka Selat Hormuz, Paman Sam Siap Bombardir Lagi?

        Iran Tolak Desakan Trump Buka Selat Hormuz, Paman Sam Siap Bombardir Lagi? Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran menghadapi hambatan baru setelah Teheran menolak tuntutan pembukaan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia itu kini berubah menjadi titik sengketa yang berpotensi menggagalkan kesepakatan damai kedua negara.

        Di tengah negosiasi yang masih berlangsung, Trump disebut segera mengambil keputusan final terkait usulan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Keputusan tersebut dipandang krusial karena akan menentukan arah hubungan kedua negara dalam beberapa bulan ke depan.

        Trump menyatakan pengumuman yang akan disampaikannya merupakan “keputusan akhir” mengenai proposal perdamaian yang saat ini tengah dibahas. Meski begitu, hingga kini masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar yang belum berhasil diselesaikan oleh kedua pihak.

        Dalam rancangan kesepakatan yang diajukan Washington, pemerintah AS mengusulkan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Tambahan waktu itu diharapkan dapat dimanfaatkan para negosiator untuk mencapai kesepakatan permanen yang mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

        Namun, pembahasan tidak hanya berkutat pada isu keamanan dan penghentian konflik. Pemerintahan Trump juga memasukkan sejumlah syarat yang dinilai sensitif oleh Teheran, termasuk penghentian pengembangan program nuklir Iran dan pembukaan kembali akses Selat Hormuz.

        Trump menegaskan kedua syarat tersebut menjadi bagian penting dari upaya normalisasi hubungan kedua negara. Menurutnya, Iran harus memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir di masa depan.

        “Iran harus setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki Senjata Nuklir atau Bom. Selat Hormuz harus segera dibuka, tanpa biaya tol, untuk lalu lintas pengiriman tanpa batasan, di kedua arah,” kata Trump.

        Permintaan terkait Selat Hormuz justru memicu penolakan keras dari Iran. Pemerintah Iran menilai Amerika Serikat tidak memiliki kewenangan untuk mengatur maupun mencampuri pengelolaan jalur perairan yang selama ini berada dalam wilayah kepentingan Iran dan Oman.

        Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa isu Selat Hormuz merupakan urusan kedaulatan regional yang tidak bisa ditentukan oleh Washington. Karena itu, Teheran menolak tuntutan yang diajukan pemerintahan Trump.

        Penolakan tersebut membuat negosiasi yang sebelumnya hampir mencapai tahap akhir kembali menemui jalan terjal. Seorang pejabat Iran bahkan mengungkapkan bahwa pembahasan sebenarnya telah mendekati titik puncak sebelum muncul perbedaan pandangan terkait sejumlah syarat tambahan dari Amerika Serikat.

        Di sisi lain, Gedung Putih tetap mempertahankan posisi keras terhadap Iran. Pemerintah AS menegaskan bahwa kesepakatan apa pun yang disetujui Trump harus tetap memenuhi garis merah Washington, terutama terkait isu nuklir.

        “Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik untuk Amerika dan memenuhi garis merahnya. Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata seorang pejabat Gedung Putih.

        Perselisihan mengenai Selat Hormuz memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar persoalan diplomatik. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting di dunia karena menjadi pintu keluar utama bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk.

        Karena itu, gangguan terhadap akses Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan memicu gejolak harga minyak internasional. Situasi tersebut juga dapat berdampak pada harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

        Baca Juga: Ramai di X Trump Siap Beri $350 Miliar kepada Iran, Benarkah?

        Bagi Trump, isu energi menjadi semakin sensitif menjelang pemilihan Kongres yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Pemerintahannya menghadapi tekanan untuk menjaga stabilitas harga bensin di tengah meningkatnya keluhan masyarakat mengenai biaya hidup.

        Kondisi itu membuat pembukaan Selat Hormuz tidak hanya dipandang sebagai isu keamanan internasional, tetapi juga memiliki dimensi politik domestik bagi Trump. Di saat yang sama, Presiden AS juga harus menghadapi tekanan dari kelompok garis keras yang menolak kompromi terhadap Iran.

        Posisi kedua negara yang masih saling bertahan pada kepentingan masing-masing, nasib kesepakatan damai kini berada di titik krusial. Jika sengketa terkait Selat Hormuz dan program nuklir tidak menemukan jalan keluar, peluang perpanjangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran terancam kembali kandas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: