Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        ESDM Sebut Listrik Gas Belum Target di April 2026, EBT Justru Berkilau

        ESDM Sebut Listrik Gas Belum Target di April 2026, EBT Justru Berkilau Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan produksi listrik berbasis gas hingga April 2026 belum mampu memenuhi target yang telah ditetapkan pemerintah. Di tengah rendahnya kontribusi gas, pembangkit energi baru terbarukan (EBT) justru mencatatkan kinerja di atas ekspektasi.

        Data Kementerian ESDM menunjukkan porsi produksi listrik yang berasal dari gas baru mencapai 13,86% hingga April 2026. Realisasi tersebut masih tertinggal cukup jauh dari target yang dipatok sebesar 20,35% pada tahun ini.

        Sebaliknya, EBT berhasil mencatatkan kontribusi 17,89% terhadap produksi listrik nasional atau melampaui target yang ditetapkan sebesar 16,46%.

        Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan capaian EBT tersebut menunjukkan tren positif dalam upaya meningkatkan bauran energi bersih nasional.

        "EBT seperti yang tahun 2025 mengalami kenaikan melampaui target yaitu realisasi 17,89 di atas target 16,46. Porsi ini tentu cukup mengembirakan dan menunjukkan kinerja yang cukup positif," ujar Tri dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6/2026).

        Data tersebut mengindikasikan adanya pergeseran dalam komposisi produksi listrik nasional. Ketika pembangkit berbasis gas belum mampu mencapai target yang direncanakan pemerintah, sumber energi terbarukan justru mulai mengambil porsi lebih besar dalam sistem ketenagalistrikan.

        Meski demikian, energi fosil masih mendominasi pasokan listrik nasional. Hingga April 2026, total produksi listrik Indonesia tercatat mencapai 165,51 terawatt hour (TWh). Dari jumlah tersebut, batu bara tetap menjadi sumber energi utama dengan kontribusi sekitar 62%.

        Sementara itu, pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) menyumbang 3,38%, sedangkan sisanya berasal dari berbagai sumber EBT seperti tenaga air, panas bumi, surya, biomassa, dan energi terbarukan lainnya.

        Di sisi lain, dominasi energi fosil masih terlihat jelas dari struktur kapasitas pembangkit terpasang nasional. Dari total kapasitas sebesar 108 gigawatt (GW), sekitar 85% masih berasal dari pembangkit berbasis fosil. Adapun kapasitas pembangkit EBT baru mencapai sekitar 15% atau setara 26 GW.

        Dalam kesempatan yang sama, Tri juga menyoroti peran sentral PT PLN (Persero) dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.

        Menurut dia, dari total kapasitas pembangkit nasional, sekitar 79,05 GW atau setara 73% berada di dalam wilayah usaha PLN, baik yang dioperasikan langsung oleh PLN maupun oleh pengembang listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP).

        "79,05 GW atau 73 persen, ini berada dalam wilayah usaha PLN yang dikelola baik oleh PLN itu sendiri, maupun IPP atau Independent Power Producer," katanya.

        Baca Juga: Kementerian ESDM Laporkan Kapasitas EBT RI Baru 15% di April 2026

        Baca Juga: Motor Listrik Rp1 Triliun hingga 32 Ribu Sepatu, Ini Daftar Dugaan Markup Dadan Cs di BGN

        Lebih lanjut, kapasitas pembangkit milik PLN dan grup tercatat mencapai 48,79 GW atau sekitar 45% dari total kapasitas nasional. Sementara itu, IPP menyumbang 29,27 GW atau sekitar 27%.

        "Jadi, porsi 73 persen ini tentunya mengindikasikan pada kita bahwa peran sentral PLN sebagai tulang punggung dalam sistem ketenagalistrikan yang ada di Indonesia," jelas Tri.

        Adapun sekitar 27% kapasitas pembangkit nasional lainnya berada di luar wilayah usaha PLN dan dikelola oleh badan usaha milik negara maupun swasta melalui skema Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Sendiri (IUPTLS), Private Power Utility (PPU), serta wilayah usaha ketenagalistrikan lainnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: