Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Hingga Capai Kantor Pembunuh Khamenei,' Iran Mau Kembangkan Rudal yang Bisa Jangkau Amerika Serikat

        'Hingga Capai Kantor Pembunuh Khamenei,' Iran Mau Kembangkan Rudal yang Bisa Jangkau Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wacana pengembangan rudal Iran kini memasuki babak baru. Sejumlah anggota parlemen Iran secara terbuka mendorong pemerintah memperluas jangkauan rudal nasional hingga mampu mencapai wilayah Amerika Serikat (AS).

        Seruan tersebut disampaikan melalui surat yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, di tengah meningkatnya sentimen anti-Amerika pascaperang yang melibatkan kedua negara.

        Baca Juga: 'Saya Tak Ingin Jadi Jimmy Carter,' Donald Trump Akui Takut Kirimkan Pasukan Elite Amerika ke Iran

        Sebanyak 85 anggota parlemen Iran menandatangani surat yang berisi tuntutan agar kemampuan pertahanan Iran terus ditingkatkan sebagai bentuk balasan atas tewasnya sejumlah tokoh penting Iran, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei serta para komandan Garda Revolusi Iran.

        "Kami akan mendukung angkatan bersenjata dan industri pertahanan hingga hari ketika jangkauan rudal kami mencapai kantor para pembunuh Khamenei," tulis para legislator dalam surat tersebut, dikutip dariĀ Fox News, Jumat (5/6).

        Pernyataan itu langsung memicu perhatian internasional karena dianggap sebagai sinyal bahwa sebagian elite politik Iran ingin mengembangkan rudal dengan kemampuan menjangkau daratan Amerika Serikat, termasuk pusat pemerintahan di Washington.

        Sejumlah analis menilai surat tersebut merupakan salah satu pernyataan paling keras yang muncul dari parlemen Iran sejak berakhirnya fase utama konflik dengan Amerika Serikat.

        Selain menuntut peningkatan kemampuan rudal, para legislator juga mendesak pemerintah Iran menolak negosiasi apa pun terkait program nuklir nasional.

        Mereka meminta agar posisi Iran terhadap Selat Hormuz tidak dikembalikan seperti sebelum perang, menuntut kompensasi penuh atas kerugian material maupun moral akibat konflik, serta mendesak penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat dari kawasan Timur Tengah.

        Para penandatangan juga meminta agar pihak yang dianggap sebagai agresor dihukum sedemikian rupa sehingga tidak lagi memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di masa depan.

        Dorongan tersebut muncul ketika pemerintah Iran masih mengevaluasi berbagai proposal yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik dan menstabilkan kembali kawasan.

        Namun, surat yang ditandatangani sejumlah tokoh garis keras Iran menunjukkan bahwa tidak semua kelompok politik di Teheran mendukung pendekatan diplomasi dengan Amerika Serikat.

        Salah satu nama yang ikut menandatangani surat itu adalah Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki yang selama ini dikenal sebagai penentang keras perundingan dengan Washington.

        Mantan Penasihat Keamanan Nasional Israel, Yaakov Amidror memperingatkan bahwa apabila Iran memperoleh keuntungan ekonomi besar dari kesepakatan dengan Amerika Serikat, sumber daya tersebut berpotensi digunakan untuk mempercepat pengembangan teknologi rudal jarak jauh.

        Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai usulan para legislator tersebut. Namun desakan dari parlemen memperlihatkan bahwa isu penguatan kemampuan rudal kini menjadi salah satu agenda utama kelompok konservatif Iran setelah berakhirnya perang dengan Amerika Serikat.

        Baca Juga: 'Tak Semudah Datang Lalu Pergi,' Amerika Akui Pusing Karena Iran Lebih Berbahaya Ketimbang Venezuela

        Perkembangan ini berpotensi menjadi tantangan baru bagi upaya diplomasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington, terutama jika tuntutan peningkatan kemampuan rudal terus mendapat dukungan politik di dalam negeri Iran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: