Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

5 Bulan Perang dengan Iran, AS Kini Mulai Kehabisan Stok Rudal

5 Bulan Perang dengan Iran, AS Kini Mulai Kehabisan Stok Rudal Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Militer Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan sebagian besar persediaan rudal jarak jauh berpresisi tinggi selama operasi militer terhadap Iran dalam lima bulan terakhir. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan Washington menghadapi potensi konflik baru di kawasan lain.

Laporan Reuters yang mengutip tiga pejabat AS menyebut persediaan rudal taktis utama Angkatan Darat, yakni Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM), mengalami penurunan signifikan akibat intensitas penggunaan sejak Februari 2026.

Menurut dua sumber yang mengetahui situasi tersebut, Amerika Serikat telah menggunakan hampir seluruh stok kedua jenis rudal itu dalam operasi militer terhadap Iran. Namun, para pejabat menolak mengungkapkan jumlah persediaan yang masih tersisa.

ATACMS dan PrSM merupakan rudal darat ke darat berpresisi tinggi yang masing-masing bernilai lebih dari 1 juta dollar AS atau sekitar Rp17,9 miliar. Kedua sistem senjata itu menjadi andalan militer AS karena mampu menghantam sasaran dari jarak jauh dengan tingkat akurasi tinggi.

ATACMS sebelumnya juga digunakan Amerika Serikat untuk mendukung Ukraina menyerang target militer di wilayah Rusia. Sementara itu, PrSM merupakan generasi penerus ATACMS dengan jangkauan serangan yang lebih jauh dan kemampuan lebih canggih.

Menipisnya stok rudal presisi dikhawatirkan dapat memengaruhi opsi militer Presiden Donald Trump apabila kembali melancarkan operasi berskala besar terhadap Iran. Salah satu konsekuensinya adalah meningkatnya ketergantungan pada misi pengeboman menggunakan pesawat berawak yang memiliki risiko lebih tinggi.

Isu mengenai persediaan amunisi juga mulai menjadi perhatian di Kongres AS. Sejumlah anggota parlemen mempertanyakan kemampuan pemerintah mempertahankan operasi militer tanpa mengurangi kesiapan menghadapi ancaman di kawasan lain.

Meski demikian, sumber lain yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan militer AS masih memiliki kemampuan untuk mengisi kembali stok persenjataan. Central Command disebut dapat memperkuat persediaan dengan memanfaatkan cadangan amunisi yang ditempatkan di berbagai wilayah dunia.

Menanggapi laporan tersebut, Gedung Putih mengutip pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan Amerika Serikat masih memiliki persediaan amunisi jauh lebih besar dibandingkan negara lain.

"Perusahaan-perusahaan pertahanan kami saat ini memproduksi lebih banyak amunisi dibandingkan sebelumnya, sekaligus memperluas fasilitas dan peralatan mereka dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Trump.

Baca Juga: Stok Rudal Terkuras, Amerika Serikat Jadi Sasaran Empuk China Gegara Perang Iran

Sementara itu, juru bicara Pentagon Sean Parnell memastikan kemampuan tempur militer AS tetap terjaga meski penggunaan amunisi meningkat selama konflik.

"Militer Amerika adalah yang paling kuat di dunia dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi kapan pun dan di mana pun Presiden menghendakinya. Kami telah melaksanakan sejumlah operasi yang berhasil di berbagai komando tempur, sembari memastikan militer AS memiliki persenjataan dan kemampuan yang memadai untuk melindungi rakyat serta kepentingan kami," ujar Parnell.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: