Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pertamax Naik Biar Adil? Bos Danantara: Masa Orang Kaya Ditanggung Masyarakat Bawah

        Pertamax Naik Biar Adil? Bos Danantara: Masa Orang Kaya Ditanggung Masyarakat Bawah Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax dan Pertamax Green yang berlaku mulai 10 Juni 2026 menuai beragam reaksi di tengah masyarakat.

        Namun, Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan disebabkan kondisi keuangan PT Pertamina (Persero) yang sedang tertekan.

        Menurut Dony, penyesuaian harga dilakukan semata-mata karena mengikuti lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan dan konflik di kawasan Timur Tengah. Ia memastikan kebijakan tersebut berjalan sesuai mekanisme pasar yang memang diatur dalam regulasi.

        "Danantara itu kan berlaku secara komersial karena itu memang di Undang-undangnya juga untuk yang non-subsidi itu mengikuti harga pasar," kata Dony kepada wartawan, Rabu (10/6).

        Ia menegaskan harga BBM non-subsidi memang harus menyesuaikan kondisi pasar global, terutama ketika harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan.

        Bahkan, menurutnya, jika harga Pertamax tidak disesuaikan, maka justru akan muncul ketidakadilan karena masyarakat berpenghasilan rendah ikut menanggung konsumsi BBM yang mayoritas digunakan kelompok mampu.

        "Kalau nggak (naik), nanti masa orang yang kaya ditanggung sama masyarakat yang di bawah, kan nggak boleh. Ini kan masalah fair aja. Nanti kalau nggak dinaikin, salah, dinaikin juga salah," ucap Dony.

        Baca Juga: Meledak! SPBU BP Susul Pertamina Naikkan Harga BBM

        Ia juga menilai kenaikan harga yang diterapkan saat ini masih berada dalam batas kewajaran dan masih sejalan dengan perkembangan harga minyak dunia. Dony bahkan menyebut harga yang berlaku saat ini masih berada di bawah nilai keekonomian yang seharusnya dibebankan.

        "Ini kan dinaikin itu memang sesuai sama harga minyak dunia. Kecuali kita menaikkan, melebihi, itu pun sebetulnya di bawah nilai yang seharusnya kita bebankan," ujar dia.

        Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga untuk dua produk BBM non-subsidi. Mulai Rabu, 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan ertamax Green 95 (RON 95) juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

        Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan setelah melalui evaluasi dan perhitungan sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah.

        Baca Juga: Alasan Presiden, Bahlil Tegaskan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik

        "Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujarnya. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: