Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Huru-Hara Pertamax Naik! Bos Pertamina Ikut Bersuara, Kenapa BBM Tiba-Tiba Melonjak?

        Huru-Hara Pertamax Naik! Bos Pertamina Ikut Bersuara, Kenapa BBM Tiba-Tiba Melonjak? Kredit Foto: Pertamina
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kenaikan tajam harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green memicu gelombang reaksi dari masyarakat. Di tengah polemik yang berkembang, PT Pertamina (Persero) akhirnya menjelaskan alasan di balik lonjakan harga yang berlaku mulai 10 Juni 2026 tersebut.

        Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa keputusan penyesuaian harga tidak dilakukan secara sembarangan. Menurutnya, perubahan harga dipengaruhi oleh dinamika global yang saat ini sedang terjadi, termasuk gejolak geopolitik dan pergerakan harga minyak mentah dunia.

        Harga Pertamax (RON 92) kini naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

        Dalam pernyataannya melalui akun Instagram resmi @pertamina, Simon menjelaskan bahwa kondisi internasional menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kebijakan tersebut.

        "Menanggapi perkembangan saat ini terkait harga BBM, perlu kami sampaikan bahwa harga BBM subsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami perubahan," ujar Simon dalam unggahan akun Instagram @pertamina, Kamis (11/6).

        Ia menambahkan bahwa harga BBM nonsubsidi memang disesuaikan dengan perkembangan pasar energi global.

        Baca Juga: BEM UI Gelar Aksi 'Menuju Indonesia Bangkrut', Soroti BBM hingga MBG

        "Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," kata Simon.

        Meski Pertamax dan Pertamax Green mengalami kenaikan yang cukup signifikan, Simon memastikan masyarakat pengguna BBM subsidi tidak terdampak oleh kebijakan tersebut.

        Pertamina menegaskan harga Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar masih dijual dengan harga Rp6.800 per liter sesuai ketetapan pemerintah.

        Penegasan ini disampaikan untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terkait kemungkinan kenaikan seluruh jenis BBM di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.

        Di sisi lain, Simon mengingatkan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi bukan hanya dilakukan oleh Pertamina. Menurutnya, sejumlah badan usaha swasta yang mengelola SPBU juga melakukan penyesuaian harga seiring perubahan kondisi pasar energi global.

        "Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini selain dilakukan di titik-titik SPBU Pertamina, juga dilakukan oleh SPBU badan usaha swasta," ucap Simon.

        Ia mengakui setiap perubahan harga BBM selalu menjadi perhatian besar masyarakat. Karena itu, Pertamina berupaya memberikan penjelasan secara terbuka mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tersebut.

        Menurut Simon, tantangan sektor energi saat ini tidak bisa dilepaskan dari situasi global yang terus berkembang dan memengaruhi harga komoditas di berbagai negara.

        Meski demikian, Pertamina memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Perseroan juga menegaskan komitmennya bersama pemerintah untuk menjaga ketersediaan energi di seluruh wilayah Indonesia.

        Baca Juga: Flashback Era Sukarno: Rupiah Ambruk, BBM Naik, Kunjungan LN Gencar

        Di tengah polemik kenaikan harga yang memicu perdebatan publik, Simon turut menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang selama ini tetap mendukung berbagai upaya Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional.

        "Kami berterima kasih atas dukungan masyarakat selama ini dan mari kita bersama-sama bijak menggunakan energi," tambahnya.

        Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa di balik huru-hara kenaikan Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina mengklaim keputusan itu diambil karena tekanan pasar energi global yang semakin berat, sementara harga BBM subsidi tetap dipertahankan agar tidak membebani masyarakat yang paling membutuhkan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: