Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kenapa Piala Dunia Kali ini Sepi? 'Kalah dengan Drama Rumah Tangga Sarwendah'

        Kenapa Piala Dunia Kali ini Sepi? 'Kalah dengan Drama Rumah Tangga Sarwendah' Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Turnamen Piala Dunia FIFA 2026 yang resmi bergulir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai Kamis (11/6), dinilai minim gegap gempita dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

        Meski hadir dengan format baru yang mempertemukan 48 tim dalam 104 pertandingan, antusiasme pencinta sepak bola di berbagai belahan dunia justru dilaporkan meredup.

        Berdasarkan analisis industri sepak bola dan respons publik di media sosial, ada beberapa faktor utama yang meredam hype turnamen sepak bola terbesar di dunia ini, mulai dari hambatan logistik, isu politik, hingga faktor ekonomi penonton.

        Masalah akses masuk ke negara tuan rumah, khususnya Amerika Serikat, menjadi sorotan tajam. Banyak suporter dari negara berkembang, seperti Ghana dan Iran, dilaporkan mengalami penolakan visa.

        Selain prosedur yang ketat, biaya pengurusan visa yang mencapai sekitar 205 dolar AS dinilai memberatkan bagi sebagian besar penggemar.

        Di sisi lain, penerapan sistem harga dinamis (dynamic pricing) membuat harga tiket melonjak tinggi dari kisaran jutaan hingga miliaran rupiah untuk laga-laga krusial. Tingginya biaya ini diperparah oleh mahal bervariasinya biaya akomodasi serta transportasi lintas negara.

        Mengingat jarak antar-stadion di tiga negara tuan rumah (AS, Kanada, Meksiko) sangat berjauhan, biaya mobilisasi suporter membengkak signifikan dan dikhawatirkan menurunkan angka kehadiran penonton langsung di stadion.

        Di Indonesia, hak siar resmi Piala Dunia 2026 dipegang oleh TVRI untuk penayangan gratis, kendati demikian, Starting Eleven menilai promosi di tingkat domestik dirasa masih kurang gencar. Pola konsumsi masyarakat yang kini lebih bergantung pada platform streaming berbayar, seperti Fola Play dan MAXstream, turut memecah konsentrasi pemirsa layar kaca.

        Faktor lain yang meredam kemeriahan adalah ketatnya regulasi komersial komite FIFA. Pembatasan penggunaan istilah kekayaan intelektual seperti "World Cup" atau "Piala Dunia" untuk keperluan promosi independen, membuat pelaku usaha lokal, termasuk kafe, restoran, dan media—kesulitan menggelar acara nonton bareng (nobar) atau membuat program pemasaran kreatif secara legal.

        Format baru dengan 48 tim juga memicu perdebatan di kalangan pengamat. Jumlah pertandingan yang terlalu banyak dianggap menurunkan kadar prestisius dan kualitas kompetisi, sehingga turnamen terkesan dipaksa demi mengejar keuntungan komersial semata.

        Situasi ini diperparah oleh perubahan perilaku penonton modern yang kini cenderung lebih menyukai tayangan highlight di media sosial ketimbang menyaksikan pertandingan penuh selama 90 menit.

        Kendati dihujani kritik mengenai hilangnya atmosfer otentik sepak bola dan ramainya keluhan di platform digital seperti X (dahulu Twitter), pihak FIFA tetap menyatakan optimismenya.

        Federasi sepak bola dunia tersebut memproyeksikan Piala Dunia 2026 yang dibuka di Stadion Azteca, Meksiko, dan akan ditutup di MetLife Stadium, New Jersey tetap akan mencetak rekor sukses besar dari sektor pendapatan dan hak siar global.

        Seperti narasi yang menyebutkan kalau drama infotainment justru lebih diikuti ketimbang tontonan akbar Piala Dunia.

        "Kenapa Piala Dunia 2026 kali ini sepi, kalah dengan drama rumah tangga Sarwendah," kata Starting Eleven.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: