Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Platform e-commerce Shopee melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan pengembang (developer) di berbagai negara sebagai bagian dari penyesuaian organisasi di tengah meningkatnya fokus perusahaan pada pengembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).
Berdasarkan laporan Bloomberg, pengurangan tenaga kerja tersebut berdampak pada sekitar 8% dari total pengembang Shopee secara global. Gelombang PHK mulai dilakukan pekan ini dan turut menyasar karyawan di kantor pusat perusahaan di Singapura.
Menanggapi kabar tersebut, juru bicara Shopee membenarkan adanya pengurangan tenaga kerja, namun tidak mengungkapkan jumlah pasti karyawan yang terdampak.
Perusahaan menyatakan evaluasi kebutuhan tenaga kerja dilakukan secara berkala sebagai bagian dari peninjauan operasional bisnis. Setiap divisi dapat melakukan penyesuaian berdasarkan prioritas bisnis dan kebutuhan operasional yang terus berkembang.
"Dari waktu ke waktu, departemen dapat melakukan penyesuaian berdasarkan prioritas operasional dan bisnis," kata juru bicara Shopee.
"Keputusan ini selalu dibuat setelah pertimbangan yang cermat. Bagi rekan-rekan yang terdampak oleh perubahan apa pun, Shopee berkomitmen untuk memberikan dukungan selama periode transisi ini," lanjutnya.
Baca Juga: Penjual Shopee hingga TikTok Shop Wajib Punya NIB, Ini Cara Mengurusnya Melalui OSS
Baca Juga: Shopee Dipanggil Kemendag, Ada Apa dengan Layanan?
Sejumlah laporan menyebutkan tidak ada pengumuman resmi yang disampaikan secara menyeluruh kepada seluruh karyawan. Beberapa pegawai baru mengetahui adanya PHK setelah rekan kerja mereka kehilangan akses ke akun perusahaan dan meninggalkan kantor.
Di Singapura, PHK dilaporkan terutama terjadi pada tim produk dan teknik (engineering). Karyawan yang terdampak disebut memperoleh paket pesangon berupa satu bulan gaji untuk setiap tahun masa kerja ditambah dua bulan gaji tambahan atau dikenal sebagai paket "N+2".
Media lokal Singapura melaporkan lebih dari 10 pegawai di kantor Singapura terdampak dalam gelombang PHK tersebut. Beberapa karyawan mengaku menerima pemberitahuan pemutusan kerja melalui platform komunikasi internal perusahaan sebelum menjalani pertemuan dengan tim sumber daya manusia.
Di sisi lain, Creative Media and Publishing Union (CMPU) menyatakan telah menerima pemberitahuan lebih awal dari Sea Limited terkait rencana penyesuaian tenaga kerja tersebut. Informasi itu memungkinkan serikat pekerja berkoordinasi dengan manajemen untuk memastikan proses PHK berlangsung adil dan karyawan menerima kompensasi yang sesuai.
Langkah efisiensi ini terjadi ketika Sea Limited semakin agresif memperluas pemanfaatan AI di berbagai lini bisnisnya, termasuk Shopee dan platform gim Garena.
Pada awal tahun ini, pendiri sekaligus CEO Sea Limited, Forrest Li, menyatakan perkembangan AI berpotensi membuka peluang pertumbuhan signifikan bagi perusahaan. Ia bahkan menyebut kapitalisasi pasar Sea berpotensi mencapai US$1 triliun apabila perusahaan mampu memanfaatkan peluang yang dihadirkan teknologi tersebut secara optimal.
Shopee sendiri telah mengintegrasikan AI ke berbagai layanan, mulai dari sistem rekomendasi produk hingga fitur pendukung bagi penjual. Pada Februari lalu, Sea juga mengumumkan kerja sama dengan Google untuk memperluas adopsi AI di seluruh unit bisnisnya, termasuk pengembangan agen belanja berbasis AI.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi apakah gelombang PHK terbaru tersebut berkaitan langsung dengan strategi investasi AI yang dijalankan perusahaan. Namun, langkah Shopee sejalan dengan tren industri teknologi global yang meningkatkan investasi AI sambil melakukan efisiensi dan restrukturisasi tenaga kerja.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: