Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Omzet Melonjak 250%, ValueMax Perluas Bisnis Gadai di Tengah Tren Suku Bunga Tinggi

        Omzet Melonjak 250%, ValueMax Perluas Bisnis Gadai di Tengah Tren Suku Bunga Tinggi Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Gadai ValueMax Indonesia mempertahankan bisnis gadai emas sebagai motor utama pertumbuhan perusahaan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan cepat. Di saat yang sama, perusahaan menyiapkan ekspansi jaringan cabang, pengembangan layanan digital, serta diversifikasi jenis barang jaminan untuk memperluas pangsa pasar.

        Direktur Utama Gadai ValueMax Indonesia Brian Wiraatmadja mengatakan emas masih menjadi barang jaminan yang paling diminati masyarakat karena memiliki likuiditas tinggi dan relatif mudah dipahami nasabah.

        “Saat ini fokus utama kami tetap pada penguatan bisnis gadai emas karena emas masih menjadi barang jaminan yang paling diminati masyarakat, memiliki likuiditas tinggi, serta mudah dipahami oleh nasabah,” ujar Brian kepada Warta Ekonomi, Senin (15/6/2026).

        Meski demikian, perusahaan tetap membuka peluang pengembangan jenis agunan lain yang dinilai memiliki nilai ekonomis dan dapat dikelola dengan risiko yang terukur.

        “Namun ke depan kami terus melihat peluang pengembangan jenis barang jaminan lain yang memiliki nilai ekonomis dan dapat dikelola dengan baik dari sisi risiko, tentunya tetap mengikuti regulasi yang berlaku,” katanya.

        Saat ini, selain emas perhiasan dan logam mulia, ValueMax menerima berbagai jenis barang jaminan lain seperti BPKB mobil, kendaraan roda dua dan roda empat, telepon seluler, laptop, tas bermerek, hingga jam tangan mewah.

        Untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka menengah, perusahaan menyiapkan strategi ekspansi yang mencakup penguatan jaringan cabang, peningkatan kualitas layanan, pengembangan sumber daya manusia, serta digitalisasi proses bisnis.

        “Strategi yang kami jalankan mencakup penguatan jaringan cabang di wilayah DKI Jakarta, peningkatan kualitas layanan serta SDM, pengembangan digitalisasi proses, serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan gadai yang aman dan terpercaya,” ujar Brian.

        Selain memperluas jaringan layanan, perusahaan juga membuka peluang kerja sama strategis dengan berbagai pihak untuk meningkatkan efisiensi bisnis dan memperluas jangkauan pasar.

        “Selain ekspansi, kami juga terus membuka peluang kerja sama strategis yang dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan nasabah,” katanya.

        Di tengah strategi ekspansi tersebut, ValueMax mencatat pertumbuhan bisnis yang signifikan sepanjang kuartal I-2026. Perusahaan membukukan kenaikan omzet sebesar 250% secara tahunan (year-on-year/YoY), didorong oleh masih kuatnya permintaan masyarakat terhadap layanan pembiayaan gadai.

        “Sepanjang kuartal I-2026, kinerja bisnis berjalan cukup positif dan sesuai dengan arah yang kami targetkan, dengan kenaikan omzet 250% secara year-on-year (YoY),” ujar Brian.

        Menurutnya, pertumbuhan tersebut didukung oleh meningkatnya kebutuhan dana masyarakat serta bertambahnya kepercayaan terhadap layanan pergadaian formal.

        “Kami melihat permintaan masyarakat terhadap pembiayaan gadai masih cukup baik, didukung oleh kebutuhan dana masyarakat serta kepercayaan terhadap layanan pergadaian formal,” katanya.

        Di sisi lain, perusahaan mengakui kenaikan suku bunga acuan masih memberikan tekanan terhadap industri pergadaian, terutama pada sisi biaya pendanaan.

        Brian menilai dampak kenaikan BI Rate lebih dirasakan perusahaan dibandingkan nasabah karena memengaruhi biaya dana yang digunakan untuk menjalankan bisnis pembiayaan.

        “Kenaikan BI Rate secara umum memang lebih berdampak kepada sisi perusahaan dibandingkan langsung ke nasabah. Dari sisi perusahaan pergadaian, kenaikan suku bunga dapat memengaruhi biaya pendanaan, terutama apabila terdapat sumber dana dengan skema yang mengikuti pergerakan suku bunga,” ujarnya.

        Untuk mengantisipasi risiko tersebut, perusahaan melakukan diversifikasi sumber pendanaan dan memperkuat manajemen risiko suku bunga.

        “Kami menjaga komposisi pendanaan agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber tertentu dan dari berbagai bank serta multifinance, sekaligus melakukan monitoring terhadap risiko perubahan suku bunga,” kata Brian.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: