Kredit Foto: Antara/Donny Aditra
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan Indonesia mengirimkan pengiriman perdana sebanyak 1.000 ton beras ke Malaysia. Ekspor tersebut dilakukan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia dan menjadi salah satu penanda capaian swasembada beras nasional.
Menurut Amran, pengiriman beras ke Malaysia menunjukkan produksi pangan dalam negeri tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga mulai menghasilkan surplus yang dapat dipasarkan ke luar negeri.
"Dulu kita pernah ekspor ke Palestina, ke Mesir, nah sekarang kita ekspor ke Malaysia," kata Amran.
Ekspor tersebut menjadi bagian dari penguatan perdagangan internasional Indonesia seiring meningkatnya produksi pertanian nasional. Pemerintah menilai kenaikan produksi telah memberikan ruang bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus memasok pasar internasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sektor pertanian untuk produk segar dan olahan sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp756,69 triliun.
Nilai tersebut meningkat Rp166,71 triliun atau 28,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai impor turun menjadi Rp389,95 triliun, berkurang Rp41,68 triliun atau 9,66 persen dibandingkan 2024.
Peningkatan ekspor yang dibarengi penurunan impor tersebut menjadi salah satu indikator menguatnya fondasi pertanian nasional.
"Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri," ujar Amran.
Pemerintah juga mendorong hilirisasi sejumlah komoditas unggulan, termasuk kelapa sawit, kopi, dan rempah-rempah. Hilirisasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperbesar devisa dari sektor pertanian.
Kinerja ekspor pertanian berlanjut pada 2026. BPS mencatat nilai ekspor komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$2,59 miliar.
Nilai tersebut meningkat 1,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus pada Juni 2026, nilai ekspor tercatat mencapai US$485,8 juta.
Di sisi lain, Indonesia juga berhasil menghemat impor hingga Rp34 triliun. Efisiensi tersebut didukung peningkatan produksi beras sebesar 4,07 juta ton atau 13,29 persen.
Cadangan Beras Pemerintah juga mencapai sekitar 5,2 juta ton. Kondisi tersebut memperkuat ruang bagi Indonesia untuk menjaga kebutuhan pangan domestik sekaligus mengembangkan pasar ekspor.
Amran turut menyoroti potensi Indonesia dan Malaysia dalam industri kelapa sawit. Menurutnya, kedua negara menguasai sekitar 80 persen produksi CPO dunia.
"Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80% produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia," ujar Amran.
Baca Juga: Viral di Threads, Warga Malaysia Ungkap Hal yang Mereka Iri dari Indonesia
Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai salah satu strategi untuk memperkuat daya saing komoditas pertanian Indonesia. Pengolahan komoditas unggulan diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dan memperbesar kontribusi sektor pertanian terhadap devisa.
Dengan peningkatan produksi, penurunan impor, pertumbuhan ekspor, serta penguatan hilirisasi, pemerintah menilai fondasi pertanian nasional semakin kuat. Pengiriman perdana 1.000 ton beras ke Malaysia menjadi salah satu contoh bagaimana surplus produksi mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat