Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Amerika Jengah, Trump Kritik Taktik Militer Israel karena Terlalu Barbar

        Amerika Jengah, Trump Kritik Taktik Militer Israel karena Terlalu Barbar Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik terbuka yang jarang terjadi terhadap taktik militer Israel dalam memburu kelompok Hezbollah di Lebanon. Trump menilai operasi yang dilakukan pasukan Israel sudah terlalu berlebihan dan menyebabkan terlalu banyak korban jiwa.

        Trump secara khusus menyoroti praktik pengeboman gedung-gedung apartemen yang dilakukan Israel untuk memburu anggota Hezbollah. Menurutnya, tindakan tersebut tidak diperlukan karena banyak warga sipil yang turut berada di dalam bangunan tersebut.

        Baca Juga: 'Kami Tak Ingin Mengambilnya,' Ini Rencana Amerika Terhadap Bahan Nuklir Iran Usai Damai

        "Terlalu banyak orang yang terbunuh. Anda tidak perlu merobohkan sebuah gedung apartemen setiap kali sedang mencari seseorang, karena ada banyak orang di gedung-gedung itu dan tidak semuanya adalah Hezbollah," kata Trump, dikutip Rabu (17/6).

        Pernyataan tersebut menjadi teguran publik yang langka dari seorang presiden AS terhadap taktik militer Israel. Kritik itu juga muncul di tengah meningkatnya ketegangan hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

        Meski menegaskan masih memiliki hubungan yang sangat baik dengan Netanyahu, Trump menilai pemimpin Israel itu harus lebih bertanggung jawab dalam menangani situasi di Lebanon.

        "Saya memiliki hubungan yang hebat dengan Bibi (Netanyahu), tetapi sekarang Bibi harus lebih bertanggung jawab terkait Lebanon," ujar Trump.

        Trump bahkan menyinggung besarnya dukungan Washington terhadap Tel Aviv selama ini.

        "Tanpa kami, tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel karena tidak ada presiden lain yang mau melakukan apa yang saya lakukan," katanya.

        Kritik Trump tidak lepas dari kekecewaannya terhadap serangan-serangan Israel ke Beirut dalam beberapa hari terakhir. Menurut Trump, operasi militer tersebut berpotensi menggagalkan kesepakatan damai yang baru saja dicapai antara AS dan Iran.

        Serangan Israel ke Beirut sebelumnya sempat memicu respons militer Iran, tepat ketika Washington sedang berupaya menyelesaikan perjanjian damai dengan Teheran.

        Di balik layar, sejumlah pejabat Israel dikabarkan juga kecewa terhadap kesepakatan Iran-AS yang dicapai Trump. Sebaliknya, Trump disebut mulai kehilangan kesabaran terhadap Netanyahu karena terus melancarkan serangan ke Lebanon meski situasi regional sedang bergerak menuju perdamaian.

        Perselisihan antara kedua pemimpin itu terutama dipicu oleh penolakan Israel untuk membatasi operasi militernya terhadap Hezbollah di Lebanon. Padahal, penghentian permusuhan di Lebanon menjadi salah satu tuntutan utama Iran dalam perundingan damai dengan Amerika Serikat.

        Tak lama setelah Trump melontarkan kritiknya, akun resmi Gedung Putih di media sosial justru mengunggah potongan video berisi pernyataan tersebut.

        Meski demikian, Gedung Putih menegaskan hubungan Trump dan Netanyahu tetap kuat serta menyebut Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebagai mitra yang luar biasa.

        "Tidak ada sahabat yang lebih besar bagi Israel dan pejuang perdamaian selain Presiden Trump. Warga Amerika dan sekutu kami di seluruh dunia kini lebih aman berkat tindakan berani AS dan Israel yang mencegah rezim Iran mengembangkan senjata nuklir," kata seorang pejabat Gedung Putih.

        Hingga kini belum ada indikasi bahwa komentar Trump akan diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang memaksa Israel mengubah taktik militernya demi memberikan perlindungan lebih besar kepada warga sipil.

        Israel sendiri terus menghadapi kritik internasional atas operasi militernya, terutama dalam serangan di Gaza yang menurut otoritas kesehatan setempat telah menewaskan sekitar 73 ribu orang, sebagian besar merupakan warga sipil.

        Baca Juga: 'Dulu Banyak Silo-silo,' Kesaksian Purbaya Saat Bereskan Isu antara Bea Cukai dan Dirjen Pajak

        Pemerintah Israel membantah sengaja menargetkan non-kombatan dan menuduh kelompok-kelompok bersenjata seperti Hezbollah maupun Hamas kerap menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: