Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Pertamax Berpeluang Turun, DEN Sebut Damai AS-Iran Bisa Tekan Harga Minyak Dunia

        Harga Pertamax Berpeluang Turun, DEN Sebut Damai AS-Iran Bisa Tekan Harga Minyak Dunia Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Peluang penurunan harga BBM nonsubsidi mulai terbuka setelah muncul kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan ditandatangani pada 19 Juni 2026. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menilai perkembangan tersebut berpotensi menekan harga minyak dunia dan berdampak pada harga BBM di Indonesia.

        Sinyal tersebut disampaikan Anggota DEN Firman Hidayat yang menilai harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan solar nonsubsidi dapat mengalami penyesuaian apabila tren pelemahan harga minyak mentah terus berlanjut.

        Menurut Firman, harga minyak Brent saat ini telah bergerak turun hingga berada di bawah level US$80 per barel.

        “Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun. Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$ 80 gitu kan, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi,” ujar Firman di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

        Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena harga BBM nonsubsidi di Indonesia sebelumnya melonjak cukup tajam seiring memanasnya konflik di Timur Tengah.

        Saat ini, harga Pertamax dipatok Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green berada di level Rp17.000 per liter.

        Tak hanya Pertamina, sejumlah operator SPBU swasta juga telah menaikkan harga jual produk BBM mereka dalam beberapa waktu terakhir.

        Firman menjelaskan bahwa pasar minyak global sebenarnya tidak mengalami masalah dari sisi pasokan.

        Ia mengungkapkan sebelum konflik pecah, dunia justru memiliki surplus pasokan minyak yang cukup besar.

        Menurutnya, pasar minyak global mencatat kelebihan pasokan sekitar 3,8 juta barel per hari sebelum perang berlangsung.

        Kenaikan harga yang terjadi selama ini lebih banyak dipicu terganggunya distribusi minyak akibat konflik dan ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.

        Salah satu faktor yang memengaruhi pasar adalah terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

        Firman meyakini kondisi tersebut akan berubah apabila kesepakatan damai antara Washington dan Teheran benar-benar terealisasi.

        Dengan distribusi minyak yang kembali normal, pasokan global yang melimpah diperkirakan akan kembali menekan harga minyak mentah dunia.

        “Sebenarnya sebelum perang kondisi supply minyak di dunia itu sebenarnya sangat banyak, 3,8 juta barrel per day surplusnya sebelum perang. Yang terjadi ini lebih karena distribusi. Ketika masalah perangnya sudah selesai, distribusi Hormuz-nya bisa lebih lancar,” jelasnya.

        Baca Juga: Anak Buah Bahlil Pastikan Harga Pertamax Turun Asal Satu Syarat Ini Terjadi

        Jika harga minyak terus bertahan di bawah US$80 per barel, peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri akan semakin besar.

        Meski demikian, pemerintah dan badan usaha energi masih akan mencermati perkembangan harga minyak dunia sebelum mengambil keputusan terkait perubahan harga BBM.

        Pasar kini menunggu realisasi kesepakatan damai AS-Iran yang diyakini dapat menjadi titik balik bagi stabilitas harga energi global setelah berbulan-bulan dilanda ketidakpastian.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: