Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.853 per Dolar AS Usai Kenaikan BI Rate

        Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.853 per Dolar AS Usai Kenaikan BI Rate Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meski Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuan. 

        Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.853 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (19/6/2026). Posisi itu melemah 59,00 poin atau setara 0,33 persen dibandingkan penutuan perdagangan sebelumnya.

        Pelemahan rupiah terjadi di tengah masih kuatnya dolar AS serta tingginya ketidakpastian global yang membayangi pasar keuangan. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan BI untuk memperketat kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.

        Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026, BI memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. 

        Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa fokus utama bank sentral saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global yang masih tinggi.

        “Jadi kalau kita lihat dalam satu bulan memang kami sudah menaikkan 100 basis point hari ini terakhir 25, sebelumnya 50, dan sebelumnya lagi 25 basis point,” kata Perry dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis (18/6/2026).

        Destry menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga turut diikuti dengan peningkatan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Untuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan, tingkat imbal hasil kini berada di kisaran 7,5 persen. Sementara itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) sempat menembus level 7 persen sebelum kembali berada di sekitar 7,02 persen.

        Menurut Destry, tujuan utama dari kebijakan tersebut adalah menarik aliran modal asing (capital inflow) dan meningkatkan pasokan valuta asing di pasar domestik.

        “Tujuan utama kami adalah mendatangkan inflow, mendatangkan valuta asing, karena ini yang sesuai dengan kebutuhan kita semua di sini, yaitu untuk dolar,” urai Destry. 

        Berdasarkan data BI, hingga 17 Juni 2026 terjadi aliran dana asing masuk ke pasar SBN sebesar Rp4,9 triliun. Sementara itu, instrumen SRBI mencatat inflow yang lebih besar mencapai Rp55,3 triliun.

        Baca Juga: Tok! Suku Bunga Acuan BI Naik Lagi 25 Bps Jadi 5,75% di Juni 2026

        Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp18.058 Usai Bank Indonesia Naikan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50%

        “Jadi artinya memang dengan inflow yang asing yang masuk cukup banyak tentunya ini akan memasok tambahan valutasi di market kita, dan itu setidaknya yang menjawab mengapa rupiah kita alhamdulillah dalam beberapa hari ini terjadi penguatan,” jelas Destry. 

        Selain itu, BI juga memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui peningkatan intensitas intervensi di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: