Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Dibuka Melemah Tipis Meski The Fed Tahan Suku Bunga Acuan

Rupiah Dibuka Melemah Tipis Meski The Fed Tahan Suku Bunga Acuan Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (30/7/2026), meski bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.075 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Posisi tersebut melemah 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.073 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%-3,75% dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) yang digelar pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat.

Keputusan tersebut diambil melalui hasil pemungutan suara dengan komposisi 9-3 untuk mempertahankan suku bunga. Meski demikian, rapat kali ini diwarnai perbedaan pendapat yang cukup tajam di internal bank sentral AS.

Tiga pejabat The Fed, yakni Presiden Fed Dallas Lorie Logan, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, secara terbuka menyatakan ketidaksetujuan terhadap keputusan mayoritas.

Ketiganya memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) dengan alasan inflasi masih bertahan di atas target 2 persen selama lebih dari lima tahun sehingga memerlukan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Perbedaan suara tersebut menjadi yang pertama sejak September 2016 ketika tiga pembuat kebijakan secara bersamaan menolak keputusan mayoritas dengan pandangan yang sama mengenai arah suku bunga.

Perbedaan pendapat itu juga menjadi tantangan awal bagi Ketua The Fed Kevin Warsh. Sikap Warsh yang tidak memberikan petunjuk yang jelas mengenai arah kebijakan moneter berikutnya dinilai telah memunculkan ketidakpastian di pasar menjelang pertemuan FOMC.

Baca Juga: Pergerakan Rupiah Akan Jadi Saksi Upaya Gangguan Politik ke Bank Indonesia (BI): Pasar Tidak Bodoh

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp18.105 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Asia dengan Kinerja Terburuk Tahun Ini

Dalam pernyataan resminya, The Fed menegaskan bahwa perekonomian AS masih menunjukkan pertumbuhan yang solid meskipun ketidakpastian global tetap tinggi.

"Aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju yang solid meskipun tingkat ketidakpastian masih tinggi, yang sebagian dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan Komite, yang sebagian mencerminkan guncangan dari sisi pasokan yang telah mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor, termasuk energi. Komite menegaskan akan mewujudkan stabilitas harga," tulis The Fed dalam keterangan resminya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra