Nori Daun Singkong Dipamerkan ke Jakarta, Sandiaga Uno: Inovasi Berbasis Lokal Bawa Dampak Sosial
Kredit Foto: Istimewa
Di tengah anggapan bahwa singkong merupakan komoditas bernilai rendah, perempuan asal Dusun Padudan RT07 RW 02 Desa Banjarsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Nurlaela berhasil mengembangkan usaha berbasis pangan lokal yang memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Melalui inovasi keripik singkong presto dan nori berbahan daun singkong, Nurlaela mengolah hasil pertanian lokal menjadi produk bernilai tambah. Upaya tersebut dilakukan melalui program Desa Emas, hasil kolaborasi Yayasan Indonesia Setara dan Inotek.
Nurlaela mengaku memperoleh berbagai bentuk pendampingan melalui program tersebut, mulai dari pelatihan dasar, pengembangan produk, perbaikan desain dan kemasan, fotografi produk, hingga pelatihan ekspor. Selain itu, ia juga mendapatkan dukungan berupa alat bantu produksi dan kesempatan mengikuti pameran di Jakarta.
"Alhamdulillah saya juga bisa ikut pameran di Jakarta, bisa bertemu dengan para pembeli, dan sampai saat ini banyak konsumen dari luar kota yang tertarik membeli produk saya," ujar Nurlaela.
Usaha tersebut berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi petani singkong yang kerap kesulitan menjual hasil panen. Saat itu, harga singkong hanya berkisar Rp300 per kilogram.
Berangkat dari kondisi tersebut, Nurlaela mulai bereksperimen mengolah singkong dari dapur rumahnya menjadi keripik singkong presto. Ia kemudian mengembangkan produk nori berbahan daun singkong yang memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai.
Seiring meningkatnya permintaan, kapasitas produksi yang semula hanya sekitar 5 kilogram singkong per hari kini mencapai 1 kuintal per hari. Produksi nori daun singkong juga terus meningkat seiring dukungan pelatihan dan pendampingan yang diterimanya.
Menurut Nurlaela, pengembangan usaha yang dijalankannya tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga bertujuan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
"Saya ingin menambah karyawan lagi dan semakin mensejahterakan teman-teman di KUB," katanya.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Nurlaela mengajak sejumlah ibu rumah tangga membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Rejeki sebagai wadah pengolahan pangan lokal dan pemberdayaan ekonomi perempuan.
Keberadaan KUB Sari Rejeki memberikan tambahan sumber pendapatan bagi para anggotanya. Jika sebelumnya mereka bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per hari, kini mereka dapat memperoleh penghasilan antara Rp50.000 hingga Rp60.000 per hari melalui kegiatan produksi keripik singkong dan nori.
Bagi sebagian keluarga, tambahan pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan pangan dan biaya pendidikan anak.
Selain memberdayakan perempuan, usaha yang dikembangkan Nurlaela juga berdampak pada petani lokal. Meningkatnya kebutuhan bahan baku mendorong semakin banyak petani kembali menanam singkong.
KUB Sari Rejeki membeli singkong petani dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga pasar sebelumnya yang berkisar Rp500 per kilogram.
Baca Juga: Sandiaga Uno dan MUTU Optimis pada Ekonomi Hijau, Kolaborasi Terbuka Lebar
Kondisi tersebut turut meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendorong kembali minat masyarakat untuk membudidayakan singkong.
Secara terpisah, Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Salahuddin Uno, menyatakan kisah Nurlaela menunjukkan bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat memberikan dampak sosial bagi masyarakat.
"Dari singkong dan daun singkong yang dulu dianggap biasa, kini tumbuh harapan baru bagi perempuan, petani, dan keluarga desa untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera," ujar Sandiaga.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: