Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump: Saya Bisa Terus Bombardir Iran, Tapi Dunia Bisa Bangkrut!

        Trump: Saya Bisa Terus Bombardir Iran, Tapi Dunia Bisa Bangkrut! Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perang yang selama tiga bulan mengguncang Timur Tengah ternyata berakhir bukan semata karena kekuatan militer Amerika Serikat, melainkan karena kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat menyeret dunia ke jurang depresi ekonomi.

        Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap alasan tersebut saat menjelaskan keputusan Washington menyetujui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Iran yang mengakhiri permusuhan kedua negara.

        Dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Axios, Trump mengakui bahwa dirinya sebenarnya memiliki pilihan untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran selama beberapa pekan ke depan.

        Namun, menurut Trump, langkah tersebut berisiko memicu krisis yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri.

        Bagi Gedung Putih, ancaman terbesar bukan lagi rudal atau serangan balasan Iran, melainkan kemungkinan terganggunya jalur distribusi energi dunia yang dapat memicu guncangan ekonomi global.

        Trump menilai konflik yang terus berlanjut berpotensi membuat Selat Hormuz tidak dapat digunakan untuk lalu lintas perdagangan energi internasional.

        Padahal, jalur tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.

        Karena itu, Trump mengaku memilih menghentikan eskalasi militer dan mendorong tercapainya kesepakatan dengan Teheran.

        "Satu-satunya cara saya bisa bersikap lebih keras adalah jika saya masuk ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus membombardir mereka habis-habisan. Benar? Tetapi apa yang akan kita dapatkan? Selat Hormuz tidak akan dibuka. Kita tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan, Ini adalah jenis hal yang dapat menyebabkan depresi di seluruh dunia," sebutnya.

        Pernyataan tersebut menjadi salah satu pengakuan paling terbuka dari Trump mengenai dampak ekonomi yang dapat ditimbulkan perang Iran terhadap dunia.

        Di sisi lain, Trump tetap menegaskan bahwa Amerika Serikat berada dalam posisi unggul secara militer selama konflik berlangsung.

        Ia bahkan membantah anggapan bahwa perang tersebut menunjukkan adanya keterbatasan kekuasaan Washington.

        Ketika ditanya mengenai pelajaran yang diperolehnya dari konflik dengan Iran, Trump justru menegaskan bahwa Amerika Serikat berhasil mendominasi medan tempur.

        "Tidak ada batasan. Saya belum memetik pelajaran tersebut. Saya tahu ada batasan, tetapi tidak ada batasan. Kita telah mengalahkan mereka sepenuhnya secara militer."

        Trump juga kembali memamerkan kekuatan militer negaranya dengan mengklaim Amerika Serikat memiliki kemampuan yang tidak dimiliki negara lain.

        "Kita memiliki militer terkuat di dunia, jauh melampaui siapa pun. Siapa lagi yang bisa melakukan blokade seperti itu? Saya telah melakukan blokade angkatan laut di mana tidak satu pun kapal yang mampu melewatinya. Beberapa kapal mencoba, Mereka tidak berhasil, Anda tahu. Itu tidak berlangsung lama," kata Trump.

        Meski demikian, kemenangan militer tidak menjadi alasan utama lahirnya kesepakatan damai.

        Trump justru menekankan bahwa menjaga stabilitas ekonomi global menjadi pertimbangan yang lebih penting.

        MoU yang ditandatangani secara jarak jauh oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6) waktu setempat mengakhiri permusuhan di berbagai front, termasuk di Lebanon.

        Kesepakatan tersebut juga membuka jalan bagi gencatan senjata selama 60 hari, pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap Iran, pemulihan lalu lintas komersial di Selat Hormuz, hingga pembahasan program rekonstruksi senilai US$300 miliar.

        Selain itu, Iran berpeluang kembali terintegrasi ke dalam perekonomian global apabila memenuhi komitmen yang tercantum dalam kesepakatan tersebut.

        Baca Juga: Iran Menang Besar? Eks Penasihat Keamanan AS Sebut Trump Sedang Dipermainkan

        Trump bahkan menyebut MoU tersebut bisa saja dipandang sebagai bentuk penyerahan diri tanpa syarat dari Iran.

        "Iya, itu mungkin memang penyerahan diri tanpa syarat."

        Namun di balik klaim kemenangan tersebut, pernyataan Trump menunjukkan satu fakta penting.

        Ketika perang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia dan memicu depresi ekonomi global, kepentingan ekonomi akhirnya menjadi faktor yang lebih menentukan daripada kemenangan militer di medan tempur.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: