Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Main di Piala Dunia, Tapi Tak Bebas Tinggal di Amerika? Iran Resmi Protes ke FIFA

        Main di Piala Dunia, Tapi Tak Bebas Tinggal di Amerika? Iran Resmi Protes ke FIFA Kredit Foto: Reuters
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Piala Dunia selama ini dipromosikan sebagai panggung yang menyatukan negara-negara dari berbagai belahan dunia. Namun bagi Iran, pengalaman mereka di Piala Dunia 2026 justru memunculkan pertanyaan besar soal batas antara olahraga dan politik.

        Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) resmi melayangkan protes kepada FIFA setelah merasa mendapat perlakuan yang merugikan selama mengikuti turnamen yang digelar di Amerika Utara.

        Iran menilai sejumlah pembatasan perjalanan yang diberlakukan selama fase grup telah mengganggu persiapan tim dan menyulitkan program yang telah disusun staf pelatih jauh sebelum turnamen dimulai.

        "Meski telah menyerahkan jadwal persiapan turnamen jauh-jauh hari, tim nasional Iran kembali menghadapi pembatasan yang diberlakukan penyelenggara, yang memengaruhi pelaksanaan rencana staf teknis," ujar juru bicara FFIRI.

        Keluhan terbesar datang menjelang laga Grup G melawan Belgia yang dijadwalkan berlangsung di Los Angeles.

        Iran meminta izin agar skuad mereka bisa terbang dari kamp latihan di Tijuana, Meksiko, menuju Los Angeles dua hari sebelum pertandingan berlangsung.

        Permintaan tersebut diajukan agar para pemain memiliki waktu lebih panjang untuk beradaptasi dengan kondisi lapangan, menjalani sesi latihan terakhir, serta mempersiapkan strategi menghadapi pertandingan penting.

        Namun permohonan itu ditolak.

        "Karena pertandingan akan digelar pukul 12.00 waktu Los Angeles, FFIRI meminta agar tim diizinkan tiba dua hari sebelum pertandingan."

        "Tujuannya agar pemain memiliki waktu cukup untuk beradaptasi dengan kondisi pertandingan, menjalani sesi latihan terakhir, dan mematangkan persiapan. Namun, meski alasan teknis telah disampaikan, permintaan tersebut kembali ditolak," lanjut juru bicara tersebut.

        Penolakan itu menjadi sorotan karena terjadi di tengah situasi politik yang masih sensitif antara Amerika Serikat dan Iran.

        Bagi Iran, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut urusan logistik pertandingan, tetapi juga menyentuh prinsip perlakuan yang setara terhadap seluruh peserta Piala Dunia.

        Kontroversi semakin membesar setelah pertandingan pertama Iran melawan Selandia Baru yang berakhir imbang 2-2.

        Menurut laporan yang beredar, delegasi Iran tidak mendapatkan kesempatan untuk bermalam atau melakukan pemulihan lebih lama di wilayah Amerika Serikat setelah pertandingan.

        Mereka disebut harus kembali ke kamp latihan di Meksiko hanya beberapa jam setelah laga selesai.

        Situasi itu memunculkan kritik karena Iran menjadi salah satu tim peserta yang tidak benar-benar leluasa berada di negara tuan rumah.

        Bagi sebagian pengamat, kondisi tersebut menciptakan kesan bahwa Iran hanya diizinkan datang untuk bertanding sebelum kembali meninggalkan wilayah Amerika Serikat.

        Di tengah protes yang menguat, pemerintah Amerika Serikat membantah adanya perlakuan diskriminatif terhadap Iran.

        Direktur Eksekutif Satuan Tugas FIFA Gedung Putih, Andrew Giuliani, menegaskan aturan tersebut sudah diketahui seluruh pihak sejak awal turnamen.

        "Tim akan diizinkan masuk dengan skema match day minus one yaitu sehari sebelum pertandingan. Mereka akan diminta meninggalkan negara pada hari pertandingan selesai, pada malam harinya dan aturan yang sama berlaku di Los Angeles."

        Giuliani juga menegaskan bahwa kebijakan serupa akan diterapkan pada laga terakhir Iran di fase grup melawan Mesir yang digelar di Seattle pada 26 Juni mendatang.

        Meski demikian, penjelasan tersebut belum meredakan kritik dari pihak Iran.

        Protes resmi yang diajukan ke FIFA kini menempatkan badan sepak bola dunia itu dalam posisi yang tidak mudah.

        Di satu sisi, FIFA selalu menegaskan bahwa sepak bola harus berdiri di atas kepentingan politik.

        Namun di sisi lain, keluhan Iran memunculkan pertanyaan apakah ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran mulai merembet ke dalam pelaksanaan Piala Dunia.

        Baca Juga: Iran Tanggung Biaya, Selat Hormuz Gratis Dilintasi Kapal Selama Dua Bulan

        Perdebatan itu diperkirakan akan terus berkembang selama turnamen berlangsung, terutama jika Iran kembali menghadapi pembatasan serupa pada pertandingan berikutnya.

        Bagi Iran, isu ini bukan lagi sekadar soal perjalanan atau akomodasi.

        Yang dipersoalkan adalah apakah seluruh peserta Piala Dunia benar-benar mendapatkan perlakuan yang sama di panggung sepak bola terbesar dunia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: