Perubahan besar terjadi di Piala Dunia 2026 setelah FIFA resmi mengubah cara menentukan posisi tim di klasemen fase grup ketika memiliki jumlah poin yang sama.
Jika selama puluhan tahun selisih gol menjadi faktor utama penentu peringkat, kini FIFA memilih mengutamakan sistem head-to-head yang sebelumnya lebih identik dengan kompetisi yang digelar UEFA.
Aturan baru tersebut langsung mencuri perhatian karena mengubah cara tim bersaing selama fase grup dan berpotensi membuat peserta lebih cepat memastikan kelolosan maupun tersingkir dari turnamen.
Dalam sistem yang diterapkan pada Piala Dunia 2026, hasil pertemuan langsung antar tim menjadi faktor pertama yang diperhitungkan ketika dua atau lebih tim mengoleksi poin yang sama.
Artinya, tim yang memenangkan laga pertemuan langsung akan berada di posisi lebih tinggi meskipun memiliki selisih gol yang lebih rendah dibanding rivalnya.
Kebijakan tersebut menandai berakhirnya dominasi aturan selisih gol yang telah menjadi acuan utama FIFA sejak Piala Dunia 1970.
Menurut laporan BBC, FIFA menilai sistem head-to-head memberikan ukuran yang lebih adil karena menitikberatkan pada hasil pertandingan antara tim-tim yang sedang bersaing secara langsung.
Pendekatan itu dianggap lebih relevan dibanding membandingkan akumulasi selisih gol dari seluruh pertandingan fase grup.
Dampak aturan baru tersebut langsung terlihat dalam perjalanan beberapa tim pada Piala Dunia 2026.
Timnas Meksiko menjadi salah satu pihak yang merasakan keuntungan dari perubahan regulasi tersebut.
Meksiko berhasil mengoleksi enam poin dari dua pertandingan pertama dan mengalahkan Korea Selatan dengan skor 1-0.
Meski Korea Selatan masih berpeluang menyamai perolehan poin Meksiko pada akhir fase grup, hasil kemenangan dalam pertemuan langsung membuat posisi Meksiko tidak lagi bisa digeser dari puncak klasemen.
Situasi berbeda dialami Turki yang menjadi salah satu korban awal penerapan sistem baru FIFA.
Dua kekalahan yang diderita dari Australia dan Paraguay membuat Turki dipastikan tersingkir meski masih menyisakan satu pertandingan.
Dalam aturan lama, peluang matematis Turki masih terbuka melalui perhitungan selisih gol.
Namun sistem head-to-head membuat peluang tersebut tertutup karena Turki kalah dalam pertemuan langsung melawan rival-rivalnya.
Meski mengutamakan hasil pertemuan langsung, FIFA tidak sepenuhnya menghapus peran selisih gol dari regulasi turnamen.
Selisih gol tetap digunakan apabila sistem head-to-head tidak mampu menghasilkan pemisahan posisi antar tim, misalnya ketika laga pertemuan langsung berakhir imbang.
Selain itu, selisih gol masih menjadi acuan penting dalam menentukan delapan tim peringkat ketiga terbaik yang berhak lolos ke babak 32 besar.
Ketentuan tersebut diterapkan karena tim-tim dari grup berbeda tidak saling bertemu selama fase grup berlangsung.
Di balik penerapannya, aturan baru FIFA juga memunculkan perdebatan di kalangan pengamat dan suporter.
Sebagian pihak menilai selisih gol masih menjadi metode yang lebih tepat karena mencerminkan performa tim secara keseluruhan sepanjang fase grup.
Namun FIFA tampaknya memilih mengikuti tren yang telah lama diterapkan UEFA dengan keyakinan bahwa hasil pertemuan langsung memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kekuatan tim yang sedang bersaing.
Perubahan ini pun menjadi salah satu transformasi terbesar dalam sejarah regulasi Piala Dunia dan diperkirakan akan terus memengaruhi strategi tim pada turnamen-turnamen mendatang.